Dua stasiun lagi dan aku akan sampai ke kotamu, Sayang. Sebab keretaku melaju lebih cepat dibanding goyahnya hati.
Dan lihatlah, aku seperti ibu penjual nasi itu, menjajakan dagangannya dari gerbong ke
gerbong. Puisiku ini terus merajut keindahan yang terbungkus untukmu.