Halo-halo tanpa Bandung pastinya, apa kabar semuanyah? Yang di sayap kanan gimana? Sehat alhamdulillah? Yang di belakang sana gimana kabarnya? Apa? Gak kedengeran? Oke. *tarik nafas* YANG DI BELAKANG MANA SUARANYAAAAAKKKHHHH????!!
*dicekek produser*
Iya, maap. Abisnya saya kangen. Rindu tak tertahankan sama seantero Marliners ini.
*benerin rok*
Nah, sekarang saya mau fokus nulis. Ini serius.
Kali ini, saya mau menulis tentang 4 orang laki-laki. Belum, belum masuk ke Man of the Year, saya belom punya ide untuk itu. Abisnya yang bikin program ribet-ribet amat sik nentuin topiknya. Kalo saya mah topik Hidayat juga udah cukup.
*ditiban raket buat nyetrum nyamuk*
Sampe mana saya tadi? Ah, 4 laki-laki.
Kali ini, tentang 3 laki-laki yang sudah saya kenal. Keempatnya memiliki satu kesamaan. Mau tahu dimana kesamaannya? Kita tanya Galileo!
*suara Alya Rohali*
Tokoh utamanya, mari kita panggil dengan si A, si B, si C dan si D. Kenapa nama mereka saya samarkan? Karena kalau Samarinda kejauhan. Iya, emang garing. Itu yang di pojokan pake daster bolong di ketek nggak usah cekikikan, bisa?
Mari kita mulai dengan si A.
Laki-laki ini lebih tinggi dari saya 2 cm. Kenapa saya tahu? Karena kalo saya berdiri di sebelah dia dengan high heels 2 cm saya, tinggi kami jadi sama. Hidungnya mancung, kulitnya agak gelap. Satu kelas pula. Badannya tegap, sifatnya gk kalem, sering sok sibuk sendiri dengan berbagai macam urusan, banyak omong juga. Saya TIDAK PERNAH ngobrol sama dia. Gak Seru, Gak nyambung, Gak klop. Ya, kalian bisa sebut itu sebagai GAK chemistry apalah itu namanya.
Dan karena kagak chemistry itu, saya sangat menikmati suasana itu selama 3 tahun kami kuliah.
Dan juga, ternyata saya salah.
Dia kurang peka.
Dia yang menyatakan umurnya LIMA TAHUN lebih tua dari yang seharusnya (ohwell, bagi yang mau tahu umurnya, coba saja hitung dua puluh satu ditambah tujuh belas ditambah kata 'tahun' setelah kalian selesai menghitung).
Yes, BEGITULAH DIA. Aku berdoa semoga kami saling bertukar cerita.
Sekarang, mari kita ceritakan tentang si B.
Laki-laki yang lebih senior dari si A. Dengan tubuh yang tinggi tapi kurus, kulit cokelat dan cerah, potongan rambut yang membuatnya lebih muda dan segar, dengan sedikit kumis dan janggut kasar, yang selalu tercukur rapi membuatnya terlihat sangat berwibawa. Ya, dia teman satu kontrakan mantan. Seseorang yng sangat idealis. Tidak jauh erbeda dengan kakaknya.
...
Oke, mulai horror.
*bakar menyan buat ngusir setan*
*padahal malah manggil itu, setan!*
Lanjut ke laki-laki ketiga aja, ya? Si C.
Dia ini, laki-laki tinggi dan tegap juga, cokelat, nampaknya dia lupa bercukur ketika kemarin saya bertemu dengannya. Dadanya bidang, bisepnya kencang. Oke, saya akui laki-laki ini sex appealnya tinggi, dan dia pun sedikit flirty. Teman sekelas waktu SMP dulu, manta ketua kelas cuy! Ketua RISMA di kampungnya. Tatapan matanya yang tajam dan senyumnya yang lebih menggoda dari Briptu Norman.
*dijorokin rame-rame karena sudah merusak imajinasi*
Terakhir, Si D
Laki-laki yang baru ketemu sekali di lapak tambal ban selatan stasiun lempuyangan, hey dia bukan tukang tambal ban-nya ya pemirsah! Tapi sesama pemiliki ban bocor juga. Badannya seperti, ehhmmmm, Chef Mster Juna. Eaaaa. Kalo smsan sok 4l4Y gitu.
Dari seluruh fantasi yang dapat terjadi, how much a girl can resist him?
Saya, kalau nggak bisa menangkap ke'genit'annya, juga pasti dengan mudahnya naksir sama dia.
Tapi apa yang membedakan si C ini dengan si A, si B dan si D?
He is an Ustadz. Imam masjid pula.
God, I love it.
*DZIIIING, muncul efek cahaya menyilaukan dari jari wajahnya, tak lama muncul naga-nagaan dari film silat di Indosiar*
Nah.
Sekarang,
saya mau tanya,
apa sih, sebenarnya yang kita benar-benar cari di hidup ini?
*TSAAAAAH!*
Pekerjaan dengan penghasilan yang menggiurkan, fasilitas yang menyenangkan, pendamping hidup yang bersorot mata lembut dan keturunan yang membanggakan.
Apa bisa kita sebut itu sebagai 'nyaman'?
Laki-laki A dan B, adalah dua contoh yang saya temui di kehidupan nyata, kurang nyaman dengan hidupnya. Kurang tepat. Mereka berdua, bahkan merasa kurang nyaman dengan dirinya sendiri. Dengan apa yang telah mereka pilih. Telah mereka miliki. Mereka berdua, walaupun saya lihat rajin beribadah, harus lebih bisa mensyukuri hidup mereka. Percuma komat-kamit baca do'a kalau pemahaman tentang rasa bersyukur saja masih seukuran kecebong. Percuma kalau semua aura positif yang mereka punya tersebar kemana-mana kalau cincin kawin yang merupakan identitas dasar mereka saja masih mereka simpan di laci meja kerja mereka.
Sedangkan laki-laki C, adalah bukti nyata dari kejujuran.
Mungkin memang dari dulu dia seorang flirter. Mungkin memang waktu mudanya dia kurang dipuja-puja para wanita, entah banyak yang berbaris manis untuknya, banyak juga yang dengan agresif menghampiri dia dan mencari cara untuk dekat dengannya. Entahlah. Tidak perlu mengira-ngira berapa perempuan yang jatuh cinta akan badan tegapnya atau merasa tipsy dengan aroma parfumnya(yes, people, he's THAT good. Damn he's ustadz :p ), satu hal yang pasti, perempuan pemilik blog ini sungguh beruntung jikalau memiliki suami yang jujur dan mencintai secara cukup. Tidak kurang, tidak berlebih. Laki-laki A dan B harus belajar dari laki-laki C untuk tidak memforsir kecintaan mereka terhadap wanita yang kelak akan dicintainyaa masing-masing. Sesuatu yang berlebih akan terbuang secara percuma, dan akan habis tidak bersisa jika terus dibiarkan. Bahaya jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
*hening*
Gile, tumben saya bener ya nulisnya ya?
*sisir poni*
*kibas sekalian*
Oh iya, ada satu hal yang ingin saya sampaikan lagi di sini.
Sudah, ya?
Jelas, ya?
Jangan ada kameha-meha di antara kita.