Home > 2011

2011

Aku dan Desember

Jumat, 09 Desember 2011 0


Aku kembali… Dengan secangkir kabar hangat, sehangat cappuccino yang sering aku teguk dipagi hari bersama-sama lelaki yang aku cintai, J. 

Entahlah, Entah bagaimana aku sebegitu ‘mengidolakan’ dia.  A person who gave me my most favourite memory... Kepadanya aku berharap. For having him in my life.

Dia lelaki hebat, dan aku mengakuinya. Dan aku ingin dinikahinya. Tidak hanya sekedar berimajinasi tentang suatu hal yang sering melintasi pikiranku tentangnya, berkhayal tentang diriku yang tak bisa berkata-kata karena dia mengunciku dengan bibirnya. Kemudian berpeluh mengucuri seluruh tubuh. Iya, aku ingin hidup dengannya. Dan membiasakan untuk membinasakan ego kami masing-masing. Ego dia yang too much narsisable, dan ego saya yang need some caress and everything. Selamanya.

I hope that this is the best thing we ever considered together. I hope that, you, me, us, will be having a better chapter for our own good.

Hhhhh... hari ini dan yang lalu-lalu adalah sesuatu, seperti kebanyakan lelaki dewasa pada umumnya, dan perempuan yang sedang menuju tahap dewasa, dan aku tahu itu akan terjadi. We're getting crush with many reasons. Yes, REASONS. I realized that it’s your ego, your big-effing-ego who took the decision. Dia bilang tanggal 17 Desember. Ada apa dengan 17 Desember? Bukankah kami masih saling mencintai?

Jujur, aku masih menyimpan ketakutan pada bulan Desember. 7 Desember 2008, andai saja kau ada pada waktu itu. Kau akan menyaksikan sendiri di sana, di tempat aku dan dia merayakan takbir Idul Adha berdua, untuk terakhir kalinya. Terakhir kali mencium, mengucap,dan mengikhlaskan dia mencintai wanita lain. Iya, aku ‘dipaksa’ putus cinta pada orang yang sangat aku cintai pada waktu itu.

7 Desember? 17 Desember? Mau apa?

The only thing you know is, the decision has been taken.
Someone I want to give a second chance to. You.
I write this post with teary eyes, snorting-little nose, a hopeless heart…

The person that you wish you could be, R.


The Bego Theories—Bego itu mahal harganya.

Rabu, 16 November 2011 0



1.      Part  #1, Me and the lovely brownies.

Jadi gini ceritanya, laptop saya dengan judul Brownies—karena warnanya  cokelat mirip brownies ditaburi keju mozzarella—yang canggihnya gak ketulungan (tingkat RT/RW doang sih) sedari awal pembelian emang ngeselin banget. Lha pegimana gak ngeselin, dia pake acara nyimpen password bios yang entah sampe sekarang aja saya gak ngerti password bios itu apa, karena tiap kali mau install, kudu ditanya dulu “Password Bios-nya apa, Mbak?”


*bengong*
Dirandom-random password-nya mulai dari ladymarlinaz, ririnmarlina, 123456789, 987654321, dan lainnya sengaja tidak saya kasih tau, seperti nama pacar, nama bapak, nama ibu, nama hewan peliharaan, nama kampus tempat saya kuliah, bahkan nama favorit artis kesayangan. Maaf tidak saya kasih tahu. *nyengir selebar lapangan bola*

Setelah sekian lama setres mikirin password bios, muncullah inisiatif buat nanya ke masnya yang install pertama kali. Celananya, eh, celakanya dia jawab “…Aku dulu nginstall gak pake password bios, Mbak…”

*panik tingkat kecamatan*

Akhirnya, brownies ini aku bawa ke temannya teman-teman yang masih satu teman jurusan tapi beda angkatan. Dia teman satu angkatan temannya mantan. Ups. *berfikir keras*. Konon di tangan dia, Teguh, segala macam kerusakan gadget computer, laptop, hardware dan lain sebagainya bisa diatasi dengan mudah. Termasuk, membuka segel laptopku yang masih garansi ini guna menemukan password bios (lagi). Fiuhhhhhhh *tarik napas panjang*
Taraaaaaa, password belum juga ditemukan.
*penonton kecewa*

Untuk mengobati kekecewaanku ini, si teman tadi memberikan alternatif lain. “Windows-nya aja ya yang tak benerin…”
*pasrah*

Intinya, selama genap setahun saya punya laptop brownies ini—ciye setahun—belum pernah laptop saya di install ulang. Kesian. Dan oh, “Laptop, 12 November 2011, selamat ulang tahun yang pertama yah. Makasih udah nemenin selama aku jomblo, nemenin aku bobo, bantu-bantuin aku ngerjain tugas, bantuin aku nyapu, ngepel, nyuci piring… (ya menurut loe) … maaf kalo banyak ngerepotin (tapi lebih banyak kamunya yang ngerepotin aku gara2 password bios-mu)… semoga pertemanan kita abadi hingga kapanpun (amin). Dan aku doain juga semoga kamu menjadi laptop yang sholehah, mawadah wa rohmah. Amin lagi yang kenceng.

Dan ini yang paling aku benci :
“Maaf, aku harus melepasmu”
*hening*

“Aku harus melepas masa lajangku. Jangan kau tanya kapan. Karena pasti ku jawab entah kapan”
“Kenapa aku harus kau lepas hanya karena akan melepas masa lajangmu?” Laptop bertanya kepadaku demikian.
*ALLOHU AKBAR. Laptopnya bisa ngomong*


“Aku harus turun ranjang. Mengawini adikmu yang lebih kecil dari ukuranmu sekarang”
“Ah tak mengapa. Kawini saja jika ini yang terbaik untuk kita”
 *SUBHANAULLOH laptopnya ngomong lagi*


*peluk laptop* *elus-elus* *ciyum layarnya* *dadah-dadah*

Memang betul, laptop ini mau saya jual dan menggantinya dengan ukuran netbook karena saya rasa mungkin laptop 14 inchi terlalu berat untuk saya gendong ke mana-mana. Terlebih ke lantai 4 tempat di mana saya sering menghabiskan waktu kuliah. Tapi yang jadi masalah saat ini adalah; Sudah tahu laptop mau dijual gak punya banyak uang simpenan, kenapa  juga ke Service Center buat mereset password bios dan dikenakan biaya kerusakan software meski masih garansi Rp 150.000 + 10% pajak= Rp 165.000? Faktor gengsi terhadap Customer Service -kah? Ahhhhh… itulah kenapa saya menyebut masalah ini sebagai sesuatu bernama BEGO ITU MAHAL HARGANYA PART ONE.

2.      Part #2, Fahmi and the kost theory.

Singkat cerita (mungkin udah terlalu lelah menempuh ujian selama seminggu, males kebanyakan nulis juga), temenku Fahmi yang kataku sih berhasil menurunkan berat badannya berpuluh-puluh kilogram, juga punya masalah yang sama. Intinya pada waktu yang bersamaan kita ini sama-sama kena KEBEGOAN yang menuntut kami bayar mahal atas kebegoan ini. #Tsaaahh.


Secara dia anak kost yang gemar  bayar kost saben bulan Rp 230.000 kepada pemilik kostan, tapi entah dapet setan bego dari mana (hmmm yang ini aku tau jawabannya), dia punya  niat untuk pindah kostan bulan depan. Pindah kost untuk ke empat kalinya selama kuliah. Empat. Fantastis. Lebih fantastis dari aku yang belum pindah kostan. 
*Heliiiii, aku masih anak mami. Kuliahpun pulang-pergi*. L


Terus, begonya Fahmi di sebelah mana? Di sini kawan. Fahmi ingin pindah kost bulan depan, tapi kenapa masih juga dia bayar kostan untuk bulan depan? Bego memang mahal, ya? Ini dia alasan Fahmi pindah kost:

  •          Seringnya anak kost satunya yang kesurupan siluman biawak campuran darah mak lampir dan kolor ijo. Udah disindir-sindir pindah kost lain malah temenku Fahmi yang justru disuruh pindah kost sama yang suka kesurupan tadi. Penghuni kost yang aneh. Aneh, makanya sering kesurupan.
  •           Males punya teman levelnya di atas bego rata-rata. Ada ya, teman kami satu kelas yang jadi satu kost sama Fahmi, itu begonya gak ketulungan. Bego banget deh bego bet bet bet. Bikin tugas aja dibikinin sama pacarnya. Tapi sekarang udah putus. Jadi mungkin Fahmi tekanan batin dengan tugas-tugas yang dilimpahkan padanya. Kuliah aja gak pernah beli buku. Mending fotocopy katanya. Lha duit hasil kiriman orang tuanya buat apa? Buat beli emas. Lainnya? Beli make up. Tapi make up murahan. Lipstick-nya aja harga 5 ribu. Krim wajahnya juga yang harga 5 ribu. Emang sih kulitnya bagus, tapi gak tau masih sebagus inikah untuk 10 tahun kemudian. “Daaaaa…. Saya mah cari yang murah-murah aja…”
         *bego tingkat provinsi*
Dan parahnya, dia mengakui kebegoannya itu di muka umum. Ih najis. Udah tau punya cowok,               masih aja cari gebetan cowok sana-sini. Cowok-cowoknya itu mau aja dibegoin sama si bego. Bego semua begoooooooo….

  •           Tai kucing yang berhamburan di mana-mana. Sumpah aku bisa pingsan beneran sama yang satu ini. Tiap kali main ke sana, kudu siap-siap tutup hidung dulu sebelum masuk kost. Kucing local yang dipelihara penghuni kost lain emang kebangetan deh ih. Selain pipis di sembarang tempat, sofa, lantai, juga kalo pup itu yakampyuuuunnnn maaf deh aku udahin aja ceritanya sampe sini. Intinya I HATE CAT !!!! *titik habis*
FYI aja sih, saya bukan tipe penggemar kucing. Kebencian saya dan keluarga muncul sama kucing karena banyak lauk semacam daging, ikan, dll yang tersaji di dapur habis digondol kucing. Masa iya kucing-kucing yang sering nyolong lauk di dapur bisa sampe gemuk-gemuk perutnya? Dan statement ini sekaligus menjawab pertanyaan keluarga kami selama ini : Bajuku dulu tak begini, tapi kini longgar kembali.
*salah nyanyi*

Demikian tadi pemirsah cerita saya tentang kebegoan diri saya dan juga teman saya, Fahmi. Muka kami memang muka-muka bloon, tapi tersimpan di dalamnya otak jenius luar biasa. Orang bilang kami ini cerdas. Pintar. Pintar ngeles tapinya. Sekian dan saya mau tidur dulu sekarang. Zzzz..zzz.zZZz..zZ



Dua Cangkir Cappuccino

Selasa, 08 November 2011 0



“…ya nabi salam ‘alayka, ya rasul salam ‘alayka…”
Hpku berdering keras mengalunkan lagu Maher Zein, Salam ‘Alayka.  Aku hafal nada panggilan ini dan akan berakhir ke mana.
“Pak, Ririn-nya ada?” Tanyamu pada ayahku.
“Riiiiiiiinnnnn….” Berteriak ayah memanggilku.
Tanpa ku sadari, berdirilah kau di depan kamarku. Dan…..

“Maaf, aku terlambat”
“Bangun kesiangan lagi?”
“Maafkan aku”

Aku memaklumi mengapa kamu sering terlambat datang menemuiku di rumah. Sudah ku maafkan hal itu dari dulu, Sayang. Kini saatnya kau duduk. Seperti biasa, duduk di kursi panjang dan menghadap langsung pada kamarku. Tunggulah waktu sebentar. Akan ku buatkan cappuccino hangat untukmu, dan untukku.

“Minumlah segera. Konon kopi buatanku ini kopi terlangka di dunia. Kau tahu alasannya ?’’
Seketika itu kau menjawab :
‘’Dibuat dari rasa cinta, kasih sayang, dan ketulusan hati pembuatnya….’’
Hening.

‘’Aku belum pernah menemukan dan merasakan kopi seenak ini, Sayang.’’ Pujimu demikian.
Ah, tapi aku yakin. Itu hanyalah alasan untuk mempermanis bibirmu yang pahit karena terlalu banyak menghisap rokok. Ya, rokok. Sudah berapa kali aku mengatakan hal ini padamu, Sayang. Aku tak mau terus menerus melambaikan tangan guna menghalau asap rokokmu!

Ku bilang,
“Berhenti merokok atau berhenti bernafas?”
‘’Tidak dua-duanya.’’ Jawabmu demikian.
Dheg !

Tanpa perintah, kedua tangan ini memelukmu erat. Erat sekali. 
“Kamu merasakannya?”
“Iya, aku merasakannya. Hangat pelukan seperti ini tak akan pernah ku lupa.” Kamu tersenyum.
Aku menghela nafas.
‘’Sayang…. Aku rindu. Aku kangen kamu’’ Kataku pelan sambil menciumi pipimu.
‘’Akupun demikian. Lihatlah, Sayang, hatiku biru lebam karena dihajar rindu yang teramat dalam…’’ bisikmu lirih di telingaku.

‘’Ini baru semenit yang lalu aku bicarakan, dan sekarang rindu tentangmu mulai mengganda. Mereka bertingkah seperti amoeba. Rindu ini membelah diri, dan seakan-akan mulai menggerogoti beberapa rusukku lagi. Berkat rindu ini, mungkin kamu menjadi satu-satunya wanita yang mengambil lebih dari satu rusuk pria, sebagaimana yang dicontohkan Hawa terhadap Adam.’’
‘’Kadang aku membayangkan, kita dilahirkan sebagai sepasang kembar siam. Yang menempel di dada. Kita hanya memilikki satu hati. Dan mungkin atas kebesaran Tuhan, dokter-dokter itu berhasil memisahkan kita seperti segalanya biasa saja. Tapi aku yakin, tanpa mereka tahu, hati kita berdenyut dengan ritme yang sama, dan menetralisir racun dengan kekuatan yang tak beda.’’
Aku kehabisan kosa kata.
Diam sejenak,
Lalu
Giliran aku bercerita tentang mimpiku. Mimpi untuk tunangan, menikah, memiliki anak darimu, dan menamai mereka dengan nama belakangmu. Mengucapkan sumpah. Hingga cucu kita lahir, dan bangun tidur pada usia enam puluh tahun sambil berpegangan tangan. Setia, sampai maut memisahkan kita.

Air matamu meleleh. Sedikit. Tak ada air mata, yang ada hanya rasa sakit yang tertahan di dada. Itulah tangisanmu. Tangisan seorang pria.
Ah, moment itu…
Marliners

Dream Theater - The Spirit Carries On

Sabtu, 15 Oktober 2011 0



J, aku masih ingat betul saat kau berkata padaku lagu ini adalah lagu favoritmu. Bahkan kau bisa menangis olehnya. Tunggu! Bagaimana bisa Mike Portnoy dkk bisa membuat lelaki sepertimu menangis?Mungkin aku tak perlu penjelasan alasannya panjang lebar. Karena lirik awal lagunya sudah memberiku sebuah jawaban.

Where did we come from?

Why are we here?

Where do we go when we die?

What lies beyond

And what lay before?

Is anything certain in life?

Yap, the question is; "is anything certain in life?". 
Yes, there is one thing certain, this song is a masterpiece. These are the musical geniuses. Well im thinking of hitting replay button some more times....!
I dedicate this song for you, J.

to be with you,
R

Dear J...

3

Tanpa pernah ada yang memberi aba-aba, aku menemukanmu. Seperti engkau menemukanku. Dalam ranah yang kita sebut nasib, lalu kita protes, menjadikannya sebuah takdir. Mungkin inginku demikian, mungkin pula denganmu. Bukankah begitu?

J, jika kita memadu raga dan juga jiwa, inilah sesuatu yang telah lama ingin ku curi darimu. Memperdayakan jiwa, saling mengenal, lalu bersabda: Kita sepakat menyebut itu cinta.
Kemudian bersemayam dalam keabadian dalam belantara yang dinamai kehidupan yang bersembunyi hingga kau hadir, yang menemani saat udara usai mengalir.

Aku dan dirimu.
Jiwa yang sulit terpecah. Tidak sederhana.
Sisanya fana....


to be with you,
R

Nickelback-HERO Music Video

Minggu, 11 September 2011 0

I am so high. i can hear heaven...
....And they're watching us, as they all fly away....

Libran To Libran

Rabu, 17 Agustus 2011 0


Akhirnya aku bertemu dengan seseorang, dan adalah tujuanku. Kuajak dia ke lembah UGM, tempat pertama kali aku berbuka puasa bersamanya. Kuanggap tempat itulah, penampung segalanya, awal untuk sebuah cerita.



Perjalanan malam dilanjutkan, untuk sekedar mengisi perut kosong seharian berpuasa. Di saat itu pula, aku merasa seperti GPS hidup, menjawab segala pertanyaan yang hampir sama darinya: "Mbak, kita mau ke mana?"

Masjid Gayam, untuk menjalankan ibadah shalat maghrib, kemudian Pawon Martha, tempat di mana kami makan steak.

Lalu....

Di bawah salah satu pohon yang teduhkan kami dari dinginnya udara yang menciutkan kulit, di tengah Alun-alun Selatan, kami berbincang tentang apa-apa, keseharian, keluarga, dan berujung pada keinginan memiliki pasangan hidup.

Malam itu aku sedikit tampak pucat, tak tahan dingin. Saat kuceritakan perihal itu, Ia menawarkan sebuah kehangatan, jaket yang tersemat ditubuhnya untuk dipakaikan kepadaku, dan aku, hanya menjawab bahwa aku baik-baik saja.

Kulanjut pembicaraanku, juga dirinya, ku remas tanganku sendiri, kulipat kaki agar menutupi badanku, guna menghalang dinginnya udara malam. Sesekali membuka dompet, memberi pecahan uang kepada mereka yang menginginkan. Dan hey, kami terdiam lama mendengar pengamen dengan petikan gitarnya menyanyikan lagu hingga selesai, entah lagu siapa dan apa judulnya kami pun tak tahu, seolah menjadi lagu pengiring suasana hati kami malam itu. Manis sekali. Dia suka lagunya, dan aku menjadi suka pula.

Saat langit mulai menghitam, bulan dan bintang tampak terang, kami pun menatap keindahan itu. Kicau-kicau jalanan mengisi kesunyian di antara kami yang sedang mengagumi rona malam. Kutengok kepalaku menatap dia yang masih diam menatap langit malam yang biru-hitam. Tapi ada yang janggal, tatapannya seolah kosong, seolah sedang melamunkan sesuatu yang aku tak tahu.

“SUDAH JAM SEPULUH MALAM, AKU HARUS PULANG”, lirihku dengan perasaan hati tak tenang.

Namun hanya ada senyum kecil seperti biasa ia berikan selepas kukatakan itu padanya. Pandangannya tetap kosong. Seperti tak ingin berpisah denganku malam ini.

"BERANI PULANG MALAM?" Aku mengangguk. Ku dekati tubuhnya, kami berjalan beriringan. Angin malam tiba-tiba terasa dingin di tengkukku, namun pipiku hangat oleh air mata. Air mata kebahagiaan seorang perempuan Libran bertemu Libran.

Saat aku tak lagi memanggilmu "Tuan" ke depan.

0

Saya tidak pernah terpikir untuk bertanya,
"Pernah kamu merasa lelah?"
Lelah akan saya dan seluruh hal kekanakan ini?
Lelah karena terlalu lama menunggu saya mengerti kamu?
Lelah karena harus menemui hal-hal aneh yang saya lakukan saat sms dan hampir sejenis di setiap malamnya?
Lelah dengan perempuan yang 6 tahun lebih muda dari kamu yang suka meledak-ledak dan seenaknya meninggalkan kamu dengan dengkuran yang tak terdengar di saat sms tengah malam kita?

Pesan teks yang saya kirimkan semalam, secara tidak langsung
adalah penyesalan terbesar saya selama ini.
Saya mau kamu ada, saya mau "kita" terus ada.

Dengan waktu yang kita tidak tahu sampai kapan,
saya mau, kamu, saya, terus berusaha.
Bukan untuk menaklukkan dunia dengan kebaikan  yang ada. Kita bukan Batman dan Catwoman, kamu tahu itu.
Kita, sepasang manusia yang suka menyanyi-nyanyi seenaknya. Sayangnya suara kamu jauh lebih patut untuk diperdengarkan dibanding saya.
*sigh*
Saya, perempuan muda nan multi-talented, multi-tasking, multi-media, tapi tidak suka multi-lasi seperti Ryan Jombang, yang sayang sama kamu dan belum cukup gila untuk mau kehilangan kamu.
Kamu, yang saya harapkan setengah mati untuk terus ada di samping saya, menemani saya dengan sorot matamu yang selalu saya suka. 



Kamu, yang sering ku sebut dengan nama panggilan sayang "TUAN", meski kau mengeluhkannya, hmm akhirnya aku tahu itu, karena kamu takut akan kesan tua pada "Tuan". Kamu, sama sepertiku, selalu ingin Forever Young.


Tapi, sedikit aku mengerti, perlahan kau menjauh, pergi meninggalkan bekas luka tak bertanda. Alasan mengapa kau melarangku dari jauh-jauh hari datang menemuimu, ya, akupun mengerti. Biarlah. Biarlah semampumu begitu. 


Aku suka dengan kenakalan lelaki seperti yang kau punya. Tantangan. Tapi maaf, aku tak suka jika seterusnya kau sendiri hanya menjalankan perintah agama setengah-setengah. Kepura-puraanmu, aku tak mau.


Cukup sajalah sampai di sini. Terimakasih, Tuan, telah mengenalku. Menunggumu untuk tidak sibuk hanya membuat waktuku habis tak bersisa. Keinginan untuk menggapai cita-cita bersama, akhiri saja. 


Well,
saya jadi belajar satu hal disini,
Never, EVER ignore what you hear.

Aku lelah berbicara sendirian padamu, 
Goodnight, goodness. Joni.

The Colour of Me

Minggu, 24 Juli 2011 0

Dulu, sebelum aku menyukai diriku seperti sekarang ini, aku sempat sangat membenci diri dan berpura-pura menjadi orang lain. Tepatnya, menjadi sahabatku. 
Aku memiliki seorang sahabat, cantik dan disukai semua orang. Sifatnya yang supel dan menyenangkan membuat orang-orang tertarik padanya. Aku iri. Waktu itu, gambar diriku tertendang berulang-ulang. Tergerus seperti puyer. Hancur. 
Kami begitu dekat hingga orang-orang mulai membandingkan aku dengannya. Aku pun mulai membandingkan diriku sendiri dengan dia. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain itu sangat sangat menyiksa, kau tahu. Apalagi orang lain yang membandingkan. 
Pernah suatu kali seorang teman berkata aku tak lebih baik dari siapapun, dibarengi dengan perkataan seorang saudara yang bilang aku ini tak berguna. Aku rusak, serusak-rusaknya. Aku pun mulai berpikir aku ini cermin bagi sahabatku itu. Dia yang berada di luar cermin, cantik dan menyenangkan. Aku di dalam, kebalikannya. Akibatnya, aku menjadi semakin kecil karena membesar-besarkan orang lain.
Lalu aku mencoba cara lain. Aku mengikuti cara bicaranya, kupinjam bajunya, kupelajari gelagatnya. Aku (ingin) menjadi dia. Dan kucoba. Semakin kucoba menjadi orang lain, aku semakin terpuruk. Aku tak pernah bisa menyusul kepribadiannya yang bersinar. Saat itu aku tak tahu kalau setiap orang bersinar dengan kepribadian uniknya masing-masing. Saat itu aku tak tahu kalau menjadi diri sendiri itu satu-satunya yang bisa dilakukan untuk bersinar.
Setiap orang perlu penerimaan, tapi bahkan aku tidak menerima diriku sendiri. Maka aku tak tahu menerima penerimaan orang lain. 
Saat itu aku tak punya gambaran akan diri yang cantik, disayang, disukai, dan berharga. Aku hanya lihat perbandingan kontras antar aku dan sahabatku. Padahal tidak sama sekali aku terlihat begitu buruk. Orang memuji kelebihan-kelebihanku, dan aku menyadari apa yang baik dalam diriku. Meski begitu, gambar diri yang rusak itu telah membuat cermin di tanganku retak Yang kulihat cuma celah, salah.
Pembandingan diri itu berlangsung bertahun-tahun tanpa perbaikan. Cermin di tanganku semakin rusak, serusak hati di dalam. Aku hidup di dalam diriku sendiri, sampai sahabatku mulai menceritakan bagaimana ia mengagumiku. Makanya kami bersahabat. 
Lalu aku memutuskan untuk membuang rasa iri dan mulai mendongkrak kelebihanku ketimbang menendang gambar diriku masuk jurang. Aku pun menulis apa yang dapat kulakukan, kelebihan-kelebihanku, dan menyimpan pujian orang lain untuk menempel kembali cermin rusakku. Tapi yang kulakukan tak cukup. Aku gak merasa cukup dicintai dengan menulis kelebihan-kelebihanku. Juga gak merasa cukup baik dengan menyimpan pujian. Ternyata bukan itu yang kuperlukan. Aku pun berusaha menerima diriku sendiri dengan mulai menyukai apa yang kulihat di cermin.
Mulai menjadi diri sendiri, dimulai dari dalam. Bukan dari luar.
Semakin lama aku bertumbuh dengan sahabatku, aku belajar bahwa penunjukkan rasa sayang yang tinggi adalah menerima seseorang beserta celah-celahnya. Aku belajar menerima diri sendiri karena aku diajar untuk diterima. Dah, oh, ternyata setiap orang melalui fase yang sama. Memiliki gambaran diri yang rusak dan berusaha diterima orang lain. 
Waktu kita tahu kita diterima meski kita penuh celah, kita jadi gak bertopeng. Aku pernah memakai topeng dan menjadi sangat tersiksa. Karena aku menunjukkan yang palsu, penerimaan yang kuterima pun palsu. Padahal, warna apapun yang kupunya itu cantik. Karena setiap orang diciptakan dengan warnanya masing-masing. Dalam penerimaan terhadap diri sendiri, jangan sampai kamu buta melihat warnamu sendiri.
Katakan, apa warnamu?

Marlina Oh La La

0

Kenal Saya? Pasti banyak yang ngga kenal dengan pendatang baru didunia entertainment ini. Sosoknya yang multitalenta, nyanyi bisa, mau dangdut? keroncong? seriosa? hingga nyinden. Nari? jago goyang kerawang, patah-patah, ngebor, hip hop, cha-cha, salsa, bisaa, ngelawak? Oalah….saya ini cewek sakses bikin orang lain ketawa guling-guling.
Menurut saya cewek kocak itu menarik! Bayangkan kalau kita ketemu cewek yang cuantiknya ngalahin Kate Middleton, tapi kalo dipancing ping-pong becandaan jawabannya garing illfill ngga seeeh? atau diajak becanda sedikit udah sensi…yah cape deh. Banyak keuntungannya jadi cewek kocak :
1. Banyak temen
2. Awet muda
3. Biasanya orangnya cerdas dan kreatif
4. Ngga ngebosenin
5. Punya magnet bagi lawan jenis
Kenapa ya sekarang banyak cewek-cewek yang stress,bunuh diri, atau kalau yang sudah menikah bunuh anak-anaknya. Karena mereka sudah kehilangan “kekocakan” dalam dirinya. Hidup ini semakin tua semakin berat my man! Percaya deh! Jadi semakin tua semakin kocak, akan membuat kita lebih “hidup”, lebih “kuat”, lebih bisa ikhlas menerima “kegalauan, kekalahan, dan kegagalan,” dalam hidup. Yah, seenggak-enggaknya kalo kita ngga bisa bikin orang lain ketawa, kita bisa mentertawakan diri sendiri. Seenggaknya senyum kecut menyudut. Betul?

Dear....Wartawan Kelompencapir

0

 
Dear Wartawan Kelompencapir,
It's been very grateful to me this semester.
You give me the best experience of being a captain of the class.
I'm very thankful for the trust you give me, for each piece of many things that happened.
Good and bad,
glad and sad,
great and mad.
:)
Dear Wartawan Kelompencapir,
I'm very proud of our solidity,
of our sometimes-chaos-but-we-still-made-it cooperation,
of our brainstorming.
I'm very proud of every little thing we do and decide together,
each smile,
each shout,
each laugh, even burst of uncontrolled laugh..
:)
Dear Wartawan Kelompencapir,
Thank you, for everything.
I love you.
I really do.
:')

4 Men of The Year

Selasa, 19 Juli 2011 0

Halo-halo tanpa Bandung pastinya, apa kabar semuanyah? Yang di sayap kanan gimana? Sehat alhamdulillah? Yang di belakang sana gimana kabarnya? Apa? Gak kedengeran? Oke. *tarik nafas* YANG DI BELAKANG MANA SUARANYAAAAAKKKHHHH????!!

*dicekek produser*
Iya, maap. Abisnya saya kangen. Rindu tak tertahankan sama seantero Marliners ini.
*benerin rok*
Nah, sekarang saya mau fokus nulis. Ini serius.

Kali ini, saya mau menulis tentang 4 orang laki-laki. Belum, belum masuk ke Man of the Year, saya belom punya ide untuk itu. Abisnya yang bikin program ribet-ribet amat sik nentuin topiknya. Kalo saya mah topik Hidayat juga udah cukup.
*ditiban raket buat nyetrum nyamuk*
Sampe mana saya tadi? Ah, 4 laki-laki.
Kali ini, tentang 3 laki-laki yang sudah saya kenal. Keempatnya memiliki satu kesamaan. Mau tahu dimana kesamaannya? Kita tanya Galileo!
*suara Alya Rohali*

Tokoh utamanya, mari kita panggil dengan si A, si B, si C dan si D. Kenapa nama mereka saya samarkan? Karena kalau Samarinda kejauhan. Iya, emang garing. Itu yang di pojokan pake daster bolong di ketek nggak usah cekikikan, bisa?

Mari kita mulai dengan si A.
Laki-laki ini lebih tinggi dari saya 2 cm. Kenapa saya tahu? Karena kalo saya berdiri di sebelah dia dengan high heels 2 cm saya, tinggi kami jadi sama. Hidungnya mancung, kulitnya agak gelap. Satu kelas pula. Badannya tegap, sifatnya gk kalem, sering sok sibuk sendiri dengan berbagai macam urusan, banyak omong juga. Saya TIDAK PERNAH ngobrol sama dia. Gak Seru, Gak nyambung, Gak klop. Ya, kalian bisa sebut itu sebagai GAK chemistry apalah itu namanya.
Dan karena kagak chemistry itu, saya sangat menikmati suasana itu selama 3 tahun kami kuliah.
Dan juga, ternyata saya salah.
Dia kurang peka.
Dia yang menyatakan umurnya  LIMA TAHUN lebih tua dari yang seharusnya (ohwell, bagi yang mau tahu umurnya, coba saja hitung dua puluh satu ditambah tujuh belas ditambah kata 'tahun' setelah kalian selesai menghitung).

Yes, BEGITULAH DIA. Aku berdoa semoga kami saling bertukar cerita.

Sekarang, mari kita ceritakan tentang si B.
Laki-laki yang lebih senior dari si A. Dengan tubuh yang tinggi tapi kurus, kulit cokelat dan cerah, potongan rambut yang membuatnya lebih muda dan segar, dengan sedikit kumis dan janggut kasar, yang selalu tercukur rapi membuatnya terlihat sangat berwibawa. Ya, dia teman satu kontrakan mantan. Seseorang yng sangat idealis. Tidak jauh erbeda dengan kakaknya.
...
Oke, mulai horror.
*bakar menyan buat ngusir setan*
*padahal malah manggil itu, setan!*

Lanjut ke laki-laki ketiga aja, ya? Si C.
Dia ini, laki-laki tinggi dan tegap juga, cokelat,  nampaknya dia lupa bercukur ketika kemarin saya bertemu dengannya. Dadanya bidang, bisepnya kencang. Oke, saya akui laki-laki ini sex appealnya tinggi, dan dia pun sedikit flirty. Teman sekelas waktu SMP dulu, manta ketua kelas cuy! Ketua RISMA di kampungnya. Tatapan matanya yang tajam dan senyumnya yang lebih menggoda dari Briptu Norman. 
*dijorokin rame-rame karena sudah merusak imajinasi*

Terakhir, Si D
Laki-laki yang baru ketemu sekali di lapak tambal ban selatan stasiun lempuyangan, hey dia bukan tukang tambal ban-nya ya pemirsah! Tapi sesama pemiliki ban bocor juga. Badannya seperti, ehhmmmm, Chef Mster Juna. Eaaaa. Kalo smsan sok 4l4Y gitu. 

Dari seluruh fantasi yang dapat terjadi, how much a girl can resist him?
Saya, kalau nggak bisa menangkap ke'genit'annya, juga pasti dengan mudahnya naksir sama dia.
Tapi apa yang membedakan si C ini dengan si A, si B dan si D?
He is an Ustadz. Imam masjid pula.
God, I love it.

*DZIIIING, muncul efek cahaya menyilaukan dari jari wajahnya, tak lama muncul naga-nagaan dari film silat di Indosiar*

Nah.
Sekarang,
saya mau tanya,
apa sih, sebenarnya yang kita benar-benar cari di hidup ini?
*TSAAAAAH!*
Pekerjaan dengan penghasilan yang menggiurkan, fasilitas yang menyenangkan, pendamping hidup yang bersorot mata lembut dan keturunan yang membanggakan.
Apa bisa kita sebut itu sebagai 'nyaman'?
Laki-laki A dan B, adalah dua contoh yang saya temui di kehidupan nyata, kurang nyaman dengan hidupnya. Kurang tepat. Mereka berdua, bahkan merasa kurang nyaman dengan dirinya sendiri. Dengan apa yang telah mereka pilih. Telah mereka miliki. Mereka berdua, walaupun saya lihat rajin beribadah, harus lebih bisa mensyukuri hidup mereka. Percuma komat-kamit baca do'a kalau pemahaman tentang rasa bersyukur saja masih seukuran kecebong. Percuma kalau semua aura positif yang mereka punya tersebar kemana-mana kalau cincin kawin yang merupakan identitas dasar mereka saja masih mereka simpan di laci meja kerja mereka.
Sedangkan laki-laki C, adalah bukti nyata dari kejujuran.
Mungkin memang dari dulu dia seorang flirter. Mungkin memang waktu mudanya dia kurang dipuja-puja para wanita, entah banyak yang berbaris manis untuknya, banyak juga yang dengan agresif menghampiri dia dan mencari cara untuk dekat dengannya. Entahlah.  Tidak perlu mengira-ngira berapa perempuan yang jatuh cinta akan badan tegapnya atau merasa tipsy dengan aroma parfumnya(yes, people, he's THAT good. Damn he's ustadz :p ), satu hal yang pasti, perempuan pemilik blog ini sungguh beruntung jikalau memiliki suami yang jujur dan mencintai secara cukup. Tidak kurang, tidak berlebih. Laki-laki A dan B harus belajar dari laki-laki C untuk tidak memforsir kecintaan mereka terhadap wanita yang kelak akan dicintainyaa masing-masing. Sesuatu yang berlebih akan terbuang secara percuma, dan akan habis tidak bersisa jika terus dibiarkan. Bahaya jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
*hening*
Gile, tumben saya bener ya nulisnya ya?
*sisir poni*
*kibas sekalian*

Oh iya, ada satu hal yang ingin saya sampaikan lagi di sini.
Sudah, ya? 
Jelas, ya?
Jangan ada kameha-meha di antara kita.

Sigur Rós - Samskeyti (Heima)

Selasa, 12 Juli 2011 0

Ini lagu "Samskeyti" kalo dipasang di jalan jalan, saya yakin burung burung juga pasti terbangnya slow motion. Damai banget ini rasanya.


The Piano - Amazing Short - Animation by Aidan Gibbons, Music by Yann Ti...

0

Test Blog. Please ignore.

0



Kau memetik nadiku seperti senar yang ada pada harpa, menari di pikiranku yang tadinya hampa, dan mewarnai wajahku dengan warna merah.


Banyak petuah tak lelah tumpah seperti muntah, namun aku hanya selalu basah meresap kisah.


Aku ingin lebih berarti dari sekotak cermin, itu agar engkau bisa melihat dirimu sendiri di kedalaman mataku yang berkaca-kaca.


Sebab hanya dusta yang terpancar dari senyum sumringah yang kau pancarkan saat tanpa kehadiranku.


Aku sesak terinjak-injak kaki jutaan detik yang lari berhamburan mencari kamu.


Dan....


Aku ingin memandangi gambarmu sampai aku benar-benar tiba di pangkal rasa kantukku.


lalu, kumaafkan ketampananmu.

Diberdayakan oleh Blogger.