Libran To Libran
Akhirnya aku bertemu dengan seseorang, dan adalah tujuanku. Kuajak dia ke lembah UGM, tempat pertama kali aku berbuka puasa bersamanya. Kuanggap tempat itulah, penampung segalanya, awal untuk sebuah cerita.
Perjalanan malam dilanjutkan, untuk sekedar mengisi perut kosong seharian berpuasa. Di saat itu pula, aku merasa seperti GPS hidup, menjawab segala pertanyaan yang hampir sama darinya: "Mbak, kita mau ke mana?"
Masjid Gayam, untuk menjalankan ibadah shalat maghrib, kemudian Pawon Martha, tempat di mana kami makan steak.
Lalu....
Di bawah salah satu pohon yang teduhkan kami dari dinginnya udara yang menciutkan kulit, di tengah Alun-alun Selatan, kami berbincang tentang apa-apa, keseharian, keluarga, dan berujung pada keinginan memiliki pasangan hidup.
Malam itu aku sedikit tampak pucat, tak tahan dingin. Saat kuceritakan perihal itu, Ia menawarkan sebuah kehangatan, jaket yang tersemat ditubuhnya untuk dipakaikan kepadaku, dan aku, hanya menjawab bahwa aku baik-baik saja.
Kulanjut pembicaraanku, juga dirinya, ku remas tanganku sendiri, kulipat kaki agar menutupi badanku, guna menghalang dinginnya udara malam. Sesekali membuka dompet, memberi pecahan uang kepada mereka yang menginginkan. Dan hey, kami terdiam lama mendengar pengamen dengan petikan gitarnya menyanyikan lagu hingga selesai, entah lagu siapa dan apa judulnya kami pun tak tahu, seolah menjadi lagu pengiring suasana hati kami malam itu. Manis sekali. Dia suka lagunya, dan aku menjadi suka pula.
Saat langit mulai menghitam, bulan dan bintang tampak terang, kami pun menatap keindahan itu. Kicau-kicau jalanan mengisi kesunyian di antara kami yang sedang mengagumi rona malam. Kutengok kepalaku menatap dia yang masih diam menatap langit malam yang biru-hitam. Tapi ada yang janggal, tatapannya seolah kosong, seolah sedang melamunkan sesuatu yang aku tak tahu.
“SUDAH JAM SEPULUH MALAM, AKU HARUS PULANG”, lirihku dengan perasaan hati tak tenang.
Namun hanya ada senyum kecil seperti biasa ia berikan selepas kukatakan itu padanya. Pandangannya tetap kosong. Seperti tak ingin berpisah denganku malam ini.
"BERANI PULANG MALAM?" Aku mengangguk. Ku dekati tubuhnya, kami berjalan beriringan. Angin malam tiba-tiba terasa dingin di tengkukku, namun pipiku hangat oleh air mata. Air mata kebahagiaan seorang perempuan Libran bertemu Libran.
