Home > Agustus 2011

Agustus 2011

Libran To Libran

Rabu, 17 Agustus 2011 0


Akhirnya aku bertemu dengan seseorang, dan adalah tujuanku. Kuajak dia ke lembah UGM, tempat pertama kali aku berbuka puasa bersamanya. Kuanggap tempat itulah, penampung segalanya, awal untuk sebuah cerita.



Perjalanan malam dilanjutkan, untuk sekedar mengisi perut kosong seharian berpuasa. Di saat itu pula, aku merasa seperti GPS hidup, menjawab segala pertanyaan yang hampir sama darinya: "Mbak, kita mau ke mana?"

Masjid Gayam, untuk menjalankan ibadah shalat maghrib, kemudian Pawon Martha, tempat di mana kami makan steak.

Lalu....

Di bawah salah satu pohon yang teduhkan kami dari dinginnya udara yang menciutkan kulit, di tengah Alun-alun Selatan, kami berbincang tentang apa-apa, keseharian, keluarga, dan berujung pada keinginan memiliki pasangan hidup.

Malam itu aku sedikit tampak pucat, tak tahan dingin. Saat kuceritakan perihal itu, Ia menawarkan sebuah kehangatan, jaket yang tersemat ditubuhnya untuk dipakaikan kepadaku, dan aku, hanya menjawab bahwa aku baik-baik saja.

Kulanjut pembicaraanku, juga dirinya, ku remas tanganku sendiri, kulipat kaki agar menutupi badanku, guna menghalang dinginnya udara malam. Sesekali membuka dompet, memberi pecahan uang kepada mereka yang menginginkan. Dan hey, kami terdiam lama mendengar pengamen dengan petikan gitarnya menyanyikan lagu hingga selesai, entah lagu siapa dan apa judulnya kami pun tak tahu, seolah menjadi lagu pengiring suasana hati kami malam itu. Manis sekali. Dia suka lagunya, dan aku menjadi suka pula.

Saat langit mulai menghitam, bulan dan bintang tampak terang, kami pun menatap keindahan itu. Kicau-kicau jalanan mengisi kesunyian di antara kami yang sedang mengagumi rona malam. Kutengok kepalaku menatap dia yang masih diam menatap langit malam yang biru-hitam. Tapi ada yang janggal, tatapannya seolah kosong, seolah sedang melamunkan sesuatu yang aku tak tahu.

“SUDAH JAM SEPULUH MALAM, AKU HARUS PULANG”, lirihku dengan perasaan hati tak tenang.

Namun hanya ada senyum kecil seperti biasa ia berikan selepas kukatakan itu padanya. Pandangannya tetap kosong. Seperti tak ingin berpisah denganku malam ini.

"BERANI PULANG MALAM?" Aku mengangguk. Ku dekati tubuhnya, kami berjalan beriringan. Angin malam tiba-tiba terasa dingin di tengkukku, namun pipiku hangat oleh air mata. Air mata kebahagiaan seorang perempuan Libran bertemu Libran.

Saat aku tak lagi memanggilmu "Tuan" ke depan.

0

Saya tidak pernah terpikir untuk bertanya,
"Pernah kamu merasa lelah?"
Lelah akan saya dan seluruh hal kekanakan ini?
Lelah karena terlalu lama menunggu saya mengerti kamu?
Lelah karena harus menemui hal-hal aneh yang saya lakukan saat sms dan hampir sejenis di setiap malamnya?
Lelah dengan perempuan yang 6 tahun lebih muda dari kamu yang suka meledak-ledak dan seenaknya meninggalkan kamu dengan dengkuran yang tak terdengar di saat sms tengah malam kita?

Pesan teks yang saya kirimkan semalam, secara tidak langsung
adalah penyesalan terbesar saya selama ini.
Saya mau kamu ada, saya mau "kita" terus ada.

Dengan waktu yang kita tidak tahu sampai kapan,
saya mau, kamu, saya, terus berusaha.
Bukan untuk menaklukkan dunia dengan kebaikan  yang ada. Kita bukan Batman dan Catwoman, kamu tahu itu.
Kita, sepasang manusia yang suka menyanyi-nyanyi seenaknya. Sayangnya suara kamu jauh lebih patut untuk diperdengarkan dibanding saya.
*sigh*
Saya, perempuan muda nan multi-talented, multi-tasking, multi-media, tapi tidak suka multi-lasi seperti Ryan Jombang, yang sayang sama kamu dan belum cukup gila untuk mau kehilangan kamu.
Kamu, yang saya harapkan setengah mati untuk terus ada di samping saya, menemani saya dengan sorot matamu yang selalu saya suka. 



Kamu, yang sering ku sebut dengan nama panggilan sayang "TUAN", meski kau mengeluhkannya, hmm akhirnya aku tahu itu, karena kamu takut akan kesan tua pada "Tuan". Kamu, sama sepertiku, selalu ingin Forever Young.


Tapi, sedikit aku mengerti, perlahan kau menjauh, pergi meninggalkan bekas luka tak bertanda. Alasan mengapa kau melarangku dari jauh-jauh hari datang menemuimu, ya, akupun mengerti. Biarlah. Biarlah semampumu begitu. 


Aku suka dengan kenakalan lelaki seperti yang kau punya. Tantangan. Tapi maaf, aku tak suka jika seterusnya kau sendiri hanya menjalankan perintah agama setengah-setengah. Kepura-puraanmu, aku tak mau.


Cukup sajalah sampai di sini. Terimakasih, Tuan, telah mengenalku. Menunggumu untuk tidak sibuk hanya membuat waktuku habis tak bersisa. Keinginan untuk menggapai cita-cita bersama, akhiri saja. 


Well,
saya jadi belajar satu hal disini,
Never, EVER ignore what you hear.

Aku lelah berbicara sendirian padamu, 
Goodnight, goodness. Joni.

Diberdayakan oleh Blogger.