Batik dan Impian
Holla readers, how was today? Kalo saya siy hari ini lagi meriang, jangan tanya kenapa. Karena saya sendiri juga gak tahu penyebab meriang saya itu apa. *dikeplak pembaca*
Kali ini saya mau cerita tentang kesibukan saya sehari-hari pada beberapa waktu belakangan ini. Hari-hari saya lalui dengan menulis blog. Dengan tema cerita yang bevariasi. Lagi gak ada kerjaan, memang. SAYA KANGEN! Kangen nulis suka-suka di blog ini, mengingat beberapa postingan di bawah ini menunjukkan jiwa saya yang sedang tidak stabil dan agak terburai kemana-mana akibat perasaan. *tsah* *kibas kerudung*
Barusan saya buka arsip yang tersimpan rapi di rak buku dan gak sengaja ngambil laporan tugas akhir kelas tiga SMK dulu. Nyengir bentar abis itu ngakak sendiri, gak nyangka ternyata dulu saya pernah bikin tugas akhir berupa batik tulis sepanjang 4,1 meter yang pembuatannya saya kerjakan sendiri. Karena menggambar motifnya sendiri memerlukan waktu lama, saya meminta bantuan teman-teman Wisma_ri agar proses pengerjaan pembuatan motif di atas kain putih cepat selesai.
Tidak banyak orang tahu saya alumnus Sekolah Menengah Kejuruan mengingat program studi yang saya tempuh saat ini adalah Keuangan Islam. Sejarah yang sangat panjang untuk kembali diceritakan. Tapi, demi memenuhi rasa ingin tahu kawan-kawan pembaca, baiklah akan saya ceritakan sejarah singkat hidup saya.
Saya lahir di Bantul, tapi karena sejak bayi hingga usia 10 tahun menetap di tanah pasundan bersama orang tua, saya dibuatkan akte kelahiran dengan mencantumkan tempat lahir: Majelengka. Tahun 1999 bapak saya sering sakit-sakitan, dan akhirnya waktu itu kami sekeluarga memutuskan kembali ke kampung halaman di Jogja. Ya, saya mengalami dua dunia masa kecil yang sangat indah, Sunda dan Jawa. Saya sangat beruntung sekali memiliki keluarga dan teman-teman sekolah yang membantu saya dalam memahami bahasa jawa. Finally, kurang dari setahun kemampuan berbahasa jawa saya mulai terlihat dengan diucapkannya pertama kali: Jenengmu sopo?
Setamat SD, saya melanjutkan studi saya di SMP 1 Piyungan. Dan setelah tamat SMP, saya bersikeras melanjutkan ke SMK Negeri 5 Yogyakarta dengan alasan: Saya suka menggambar dan saya mencintai seni. Maka jadilah saya diterima di program studi yang saya pilih sendiri, Kriya Tekstil. Awalnya saya senang karena impian saya tercapai: Sekolah Menggambar! Namun ada kalanya rasa jenuh itu datang. Menggambar setiap hari adalah impian terburuk, apalagi ternyata banyak sekali tugas sekolah dengan aneka mata pelajaran menggambar yang berbeda-beda.
Bosan dengan aktivitas menggambar, saya putuskan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Bahasa Perancis. Tidak banyak yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut. Hanya tiga orang. Maka bertambah pula impian saya saat itu: Menggambar + Kemampuan Bahasa Perancis = Desainer. Tapi sepertinya impian saya tadi mendadak kabur setelah guru bahasa perancis menyuruh kami untuk menuliskan apa yang dia ucapkan pertama kali kepada kami: Bonjour, Je me present, Je m’appelle Retno Yulianti. Je viens de Papringan. Comment ça va? Bien? Oui, merci.
Bengong sejam. Gak ngerti sama sekali apa yang diomongin. Tapi keikutsertaan saya mengikuti ekstrakurikuler bahasa perancis berbulan-bulan bukan tanpa membuahkan hasil. Ya, saya dan teman saya berhasil memperoleh juara ke tiga tingkat propisinsi dalam rangka lomba kompetensi siswa SMK bidang non-kriya.
Tiga tahun mengenyam pendidikan membawa saya menuju ke ujian tingkat akhir yang mewajibkan setiap perserta didik untuk membuat karya tugas akhir sebagai syarat kelulusan sekolah. Saya memilih untuk membuat batik tulis sepanjang 4,1 meter yang pola motifnya sendiri pernah saya buat sewaktu Praktek Kerja Lapangan. Motif itulah yang membuat saya berdebat sengit dengan guru pembimbing. Bagaimana tidak, di tengah isu berita pornografi dan pornoaksi merajalela di berbagai pemberitaan stasiun televisi waktu itu, guru pembimbing saya memberi judul motif batik saya dengan nama: SINGO BIRAHI. *baca dzikir seharian*
Mendadak batik saya jadi kontroversial. Ini singa dari mana pula asalnya kok bisa jadi sedang birahi segala sik? Entahlah, sampai sekarang pun saya sendiri tidak tahu jawabannya.
Seperti halnya impian. Saya pun tak tahu apakah mimpi-mimpi saya tadi akan terwujud di masa mendatang. Impian untuk menjadi desainer batik kontemporer yang memiliki beberapa rumah fashion di Perancis, atau impian-impian lain yang belum terpikirkan sama sekali saat ini, saya tidak boleh takut untuk meraihnya. Akhirnya, meski impian-impian itu masih ada, saya berani membuktikan bahwa ketakutan yang terbesar ada di dalam diri sendiri. Yang bisa melawannya pun diri sendiri. Bahkan bantuan orang lain tidak berguna bila tidak ada keberanian dari diri sendiri. Yang harus mulai saya ubah adalah cara berpikir dan menghadapinya. Inti dari semua itu hanya mind-set.





