Home > April 2012

April 2012

Batik dan Impian

Selasa, 10 April 2012 0


Holla readers, how was today? Kalo saya siy hari ini lagi meriang, jangan tanya kenapa. Karena saya sendiri juga gak tahu penyebab meriang saya itu apa. *dikeplak pembaca*
Kali ini saya mau cerita tentang kesibukan saya sehari-hari pada beberapa waktu belakangan ini. Hari-hari saya lalui dengan menulis blog. Dengan tema cerita yang bevariasi. Lagi gak ada kerjaan, memang. SAYA KANGEN! Kangen nulis suka-suka di blog ini, mengingat beberapa postingan di bawah ini menunjukkan jiwa saya yang sedang tidak stabil dan agak terburai kemana-mana akibat perasaan. *tsah* *kibas kerudung*

Barusan saya buka arsip yang tersimpan rapi di rak buku dan gak sengaja ngambil laporan tugas akhir kelas tiga SMK dulu. Nyengir bentar abis itu ngakak sendiri, gak nyangka ternyata dulu saya pernah bikin tugas akhir berupa batik tulis sepanjang 4,1 meter yang pembuatannya saya kerjakan sendiri. Karena menggambar motifnya sendiri memerlukan waktu lama, saya meminta bantuan teman-teman Wisma_ri agar proses pengerjaan pembuatan motif di atas kain putih cepat selesai.
Tidak banyak orang tahu saya alumnus Sekolah Menengah Kejuruan mengingat program studi yang saya tempuh saat ini adalah Keuangan Islam. Sejarah yang sangat panjang untuk kembali diceritakan. Tapi, demi memenuhi rasa ingin tahu kawan-kawan pembaca, baiklah akan saya ceritakan sejarah singkat hidup saya.

Saya lahir di Bantul, tapi karena sejak bayi hingga usia 10 tahun menetap di tanah pasundan bersama orang tua, saya dibuatkan akte kelahiran dengan mencantumkan tempat lahir: Majelengka. Tahun 1999 bapak saya sering sakit-sakitan, dan akhirnya waktu itu kami sekeluarga memutuskan kembali ke kampung halaman di Jogja. Ya, saya mengalami dua dunia masa kecil yang sangat indah, Sunda dan Jawa. Saya sangat beruntung sekali memiliki keluarga dan teman-teman sekolah yang membantu saya dalam memahami bahasa jawa. Finally, kurang dari setahun kemampuan berbahasa jawa saya mulai terlihat dengan diucapkannya pertama kali: Jenengmu sopo?

Setamat SD, saya melanjutkan studi saya di SMP 1 Piyungan. Dan setelah tamat SMP, saya bersikeras melanjutkan ke SMK Negeri 5 Yogyakarta dengan alasan: Saya suka menggambar dan saya mencintai seni. Maka jadilah saya diterima di program studi yang saya pilih sendiri, Kriya Tekstil. Awalnya saya senang karena impian saya tercapai: Sekolah Menggambar! Namun ada kalanya rasa jenuh itu datang. Menggambar setiap hari adalah impian terburuk, apalagi ternyata banyak sekali tugas sekolah dengan aneka mata pelajaran menggambar yang berbeda-beda.

Bosan dengan aktivitas menggambar, saya putuskan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Bahasa Perancis. Tidak banyak yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut. Hanya tiga orang. Maka bertambah pula impian saya saat itu: Menggambar + Kemampuan Bahasa Perancis = Desainer. Tapi sepertinya impian saya tadi mendadak kabur setelah guru bahasa perancis menyuruh kami untuk menuliskan apa yang dia ucapkan pertama kali kepada kami: Bonjour, Je me present, Je m’appelle Retno Yulianti. Je viens de Papringan. Comment ça va? Bien? Oui, merci.

Bengong sejam. Gak ngerti sama sekali apa yang diomongin. Tapi keikutsertaan saya mengikuti ekstrakurikuler bahasa perancis berbulan-bulan bukan tanpa membuahkan hasil. Ya, saya dan teman saya berhasil memperoleh juara ke tiga tingkat propisinsi dalam rangka lomba kompetensi siswa SMK bidang non-kriya.

Tiga tahun mengenyam pendidikan membawa saya menuju ke ujian tingkat akhir yang mewajibkan setiap perserta didik untuk membuat karya tugas akhir sebagai syarat kelulusan sekolah. Saya memilih untuk membuat batik tulis sepanjang 4,1 meter yang pola motifnya sendiri pernah saya buat sewaktu Praktek Kerja Lapangan. Motif itulah yang membuat saya berdebat sengit dengan guru pembimbing. Bagaimana tidak, di tengah isu berita pornografi dan pornoaksi merajalela di berbagai pemberitaan stasiun televisi waktu itu, guru pembimbing saya memberi judul motif batik saya dengan nama: SINGO BIRAHI. *baca dzikir seharian*

Mendadak batik saya jadi kontroversial. Ini singa dari mana pula asalnya kok bisa jadi sedang birahi segala sik? Entahlah, sampai sekarang pun saya sendiri tidak tahu jawabannya.

Seperti halnya impian. Saya pun tak tahu apakah mimpi-mimpi saya tadi akan terwujud di masa mendatang. Impian untuk menjadi desainer batik kontemporer yang memiliki beberapa rumah fashion di Perancis, atau impian-impian lain yang belum terpikirkan sama sekali saat ini, saya tidak boleh takut untuk meraihnya. Akhirnya, meski impian-impian itu masih ada, saya berani membuktikan bahwa ketakutan yang terbesar ada di dalam diri sendiri. Yang bisa melawannya pun diri sendiri. Bahkan bantuan orang lain tidak berguna bila tidak ada keberanian dari diri sendiri. Yang harus mulai saya ubah adalah cara berpikir dan menghadapinya. Inti dari semua itu hanya mind-set.

Celengan dan Capcay Recovery

0


Proposal skripsi saya sudah selesai, tapi proposal tugas metopen yang belum, dan nyetrika baju pun saya pending esok hari. Khan gak asik kalo malam-malam begini ribut sama orang tua gara-gara teve-nya mati karena meteran listriknya njegleg, gak kuat nahan daya setrika karena memang rumah saya dipasang listrik hanya sebesar 450 Volt saja. Memang ukuran listrik yang sangat kecil untuk rumah era sekarang. Tapi bagi keluarga kami itu sudah cukup. Cukup untuk tidak banyak memiliki perabotan elektronik seperti kulkas, mesin cuci, dan lain sebagainya. Karena tinggal di desa dengan  falsafah hidup keluarga kami sangat sederhana, dan selama pasar yang berada 100 meter selatan rumah masih lestari, barang elektronik seperti kulkas itu tidak diperlukan lagi.  Ditemani segelas sirup kawista dan baju-baju yang hampir disetika tapi gak jadi, saya menulis postingan ini. Maka jadilah saya nyampah di blog kayak gini. 

He euh, buat ngilangin penat sama biar keliatan sibuk sebenernya.
Di luar  cuacanya lagi galau. Alexandre Desplate, Mike Shinoda, Hans Zimmer, dan James Horner sedang memainkan instrumen-instrumennya dengan manis di playlist saya. Nggak, nggak bikin galau, tapi bikin pingin balapan naik naga terbang atau toruc macto sama Jake Sully (teteup) di negeri Avatar. Eh, Jake atau Jack sik? *setres sendiri*. Di sebelah kanan saya ada kipas angin yang lagi kecapekan muter baling-balingnya, agak soak dikit ini kipas. Di sebelah kiri saya juga ada celengan tabung gambar sapi gemuk berusaha jadi balon udara untuk koleganya yang juga sesama sapi. Pusing ngebayanginnya? Ini gambarnya:

Iya, saya punya dua buah celengan. Celengan yang besar itu saya beli awal Maret 2007, isinya hanya uang logam yang dari dulu sampe sekarang belum pernah penuh karena memang sengaja lubang celengannya saya robek secara paksa pake gunting. Biar kalo pas darurat banget gak punya uang, beberapa ATM juga tinggal kartu doang, celengan isi uang logam adalah harapan terakhir penyelamat hidup saya. Dan celengan yang gambar sapi itu saya isi uang kertas. Saya beli celengan gambar sapi itu malam-malam setelah nonton film The Raid di tempat yang sama saya beli celengan yang isinya uang logam, di sebuah pusat perbelanjaan kawasan Malioboro.

Sebenernya gak enak banget jalan-jalan nyari celengan dengan kondisi perut kekenyangan. Ceritanya nih sebelum beli celengan, saya diajak makan malam sama Indah. Doski mesenin satu porsi capcay kuah buat saya. Sambil ngobrol ke sana ke mari yang waktu itu kaya gak ada habisnya, capcay yang kami pesan akhirnya siap untuk disantap. Cuma saya masih ragu, ini kenapa mas-mas sama mbak-mbak yang makan di depan saya kelihatan begitu menikmati menu makanannya sik? *emosi*. Ngelihatin capcay kuah fully kubis and air jadi berasa pengen ganti menu lain seperti yang lagi dimakan masnya dan mbaknya.

Saya     : “Mas, capcay saya bisa direcovery ulang kaya masnya dan mbaknya ini gak?”
Chef     : (ciyeee manggilnya Chef) “Recovery gimana ya, Mbak?”
Saya     : *mikir* *berusaha keras mencari kosa kata yang tepat buat jelasin ke Chef-nya*
             “Nganu, maksud saya, ini capcay bisa didaur ulang lagi apa gak ya? Dibikin capcay goreng”
Chef     : “Wah, maaf Mbak gak bisa. Nanti gandumnya lembek, gak serenyah capcay goreng    biasanya lho Mbak”
Saya     : “Gapapa, kuahnya dibuang aja. Bisa kan, Mas?
Chef     : @&$*%^*%#$ (baca: ndasmu) *capcay deh*

Setelah capcay recovery-nya jadi, Indah mulai bisik-bisik (sambil nahan ngakak deh kayaknya), kalo ternyata menu makan yang dipilih masnya dan mbaknya di depan saya itu ternyata rica-rica paha ayam. Apa? What the… Diam kau Prabu Wijaya! Dasar kau siluman biawak!!! Pergi Amira!!!
Ya ampun, jadi itu namanya rica-rica? Bukan capcay goreng? *dinyinyir Pak Bondan*
Ya ampun, untung Indah ngasih tahunya ke saya pas kelar makan capcay goreng hasil recovery Chef berprestasi tinggi tahun ini dan tahun-tahun fiktif berikutnya. Coba kalo dia ngasih tahu pas saya mau mulai makan, Chef-nya bisa pingsan kayang.

Itulah salah satu kehidupan saya yang walaupun sedikit gila, ngeselin, tapi masih mau berupaya keras untuk menabung. Berasa punya bank sendiri. Tsaaaaahhh. Udah ya saya mau tidur. So long, farewell, auf widersehen. *tidur berlumur iler*

My J...

Kamis, 05 April 2012 0

Hari ini airmata mudah sekali turun, bukan hanya sesekali. Apapun yang terbaca aku pun menangis. Entah mengapa, masih ragu untuk menjelaskan. Atau mungkin memang tidak ada yang perlu dijelaskan. Hanya yang kutahu, aku merasa rindu, sedih, bahagia, haru juga marah secara tiba-tiba.
Satu hal yang ingin sekali ku ceritakan padamu, kawan. The story of a boy with wide eyes, dark brown skin, soft hand...

Dan…
Dialah laki-laki jenis J, dan J sendirilah jenisnya. Dia tangkas seperti anak kijang, harga dirinya hampir mencapai taraf congkak dan tidak merengek, apalagi mengemis. J memberi karena aku meminta atau aku meminta dan J memberi. Sebagai laki-laki kepribadiannya begitu menggaris jelas. J memang hampir berkepala tiga berjiwa muda, tetapi di hatiku dia memberi gambaraan jelas sebuah pohon kukuh dengan bayangan yang teduh tempat orang bernaung.

J
Yang telah jatuh cinta kepada seseorang yang penuh dengan pikiran cemas, Aku. Dunianya begitu lebar, gelap, dan berawan. His sight of life is monochrome. His steps are wide and free. His lifestyle is full of Sampoerna Mild cigarettes and seldom of mineral water.
This is Us, who fall in love to each other, with all of the differences, all of the doubts and arguments, finally collaps. At least in these few months.

The boy finds the new adventure to life. And like I said, as long as we have the faith, on us, on love, the world has judge that story finally finds its end...
We're done with our love, but not with our life. We should leave the lovely person to have some life on the next future since you won't have much time here, in my heart. You and I. About how's your life going, how's mine, what are you gonna do after this, what mine will be, what will we have…

Have a good dream, J. My prays are with you.


Nonton The Raid

0


29 Maret 2012
Hari ini demo anti kenaikan BBM terjadi lagi di pertigaan kampus orange tercinta. Demonya sih gak seheboh yang terjadi beberapa waktu lalu yang sampe ricuh-ricuh sama polisi. Emang canggih bener deh teman-teman sekampus ini, bisa mengkunci lalu lintas dari berbagai arah penjuru. Imbasnya ya ke saya, yang rela panas-panas ambil honor pameran lewat pinggir rel kereta api, yang waktu itu naujubilah seumur-umur baru sekali ini merasakan jalanan pinggir rel kereta yang disulap mirip ibukota, macet.
12.30. Setelah rela berpanas-panas antre macet di pinggir rel kereta, saatnya giliran saya berdingin-dingin antre tiket film di Empire XXI. Emang rada telat dikit sih nontonnya, tapi pengen berasa keren aja nonton film sekeren The Raid.

Sampe di tengah-tengah pengantrean, datang deh seorang cowok keren berkacamata yang belakangan saya ketahui ternyata masih teman kuliah, sekelas pula. Nandang Kusdiana. Putra Pasundan yang sering saya pelesetkan namanya jadi NENDANG KUSDIANA. *hahaha sumpah demi apa dia gak nendang saya sampe gurun sahara setelah terang-terangan saya manggil dia Nendang?*
“Rin, ngantre tiket?”
“Enggak, lagi ngantre sembako” *ya menurutlo?*
“Beli tiket film apa?”
“Beli tiket film GOLOK PEMBUNUH NAGA” (ini judul film beneran sukses menancap di otak setelah iklan ini mendominasi salah satu stasiun televisi swasta tanah air. Mungkin lain waktu ada yang mau menawarkan film GERGAJI PEMBUNUH SERANGGA kepada saya?) *keselek angin* *ngakak gila-gilaan*.
“Emmm, aku boleh nitip tiket gak? *udah ketebak*
“Emang kamu mau nonton film apa? Aku mau nonton The Raid buat entar jam 14.10.”
“Kamu nonton jam 14.10? Duh aku pengen nonton yang jam sore. Bisa sekalian nitip gak yak?
“Gak tau ya. Ya udah sinih sekalian nitip aku aja”
Saat itu juga Nendang langsung musyawarah mufakat sama Mbak-mbak. Gak tau siapa Mbak-mbaknya. Saya gak mau dan gak suka menyebar gossip, hoyyyyy!
“Emmm, *emmm lagi cobak!* yaudah deh Rin gak jadi nitip. Besok aja deh nontonnya”
*bengong*
Sampe di tengah-tengah antrean, ada sekitar dua security bisik-bisik liatin saya dengan tatapan nanar. *mendadak cemas*. Tak lama kemudian, mereka menghampiri saya. *keluar keringet dingin*
Saya sudah hampir mau mengatakan:
“Ampun, Pak. Saya tidak melakukan tindakan kejahatan apapun di muka bumi ini…”
Kenyataannya adalah ticketing lainnya sudah dibuka dan saya orang yang berhak mendapatkan kesempatan istimewa membeli tiket film urutan pertama. 

14.00. Teater 3 telah dibuka. Saya dan pacar segera memasuki ruangan tersebut. The Raid emang keren. Sangking kerennya, The Raid sukses membuat saya mencakar-cakar tangan pacar. Hehehe. Udah sejaman filmnya diputer, udara dingin dalam ruangan membuat saya kepingin pipis. Setelah menuruni anak tangga, saya benar-benar bingung. Kenapa saya tidak menemukan pintu masuk tadi? Kenapa saya sampe harus mencakar-cakar dinding kedap suara di samping pintu keluar? Dasar bodoh, saya keluar ruangan tidak melalui pintu masuk teater tadi. Melainkan keluar melalui pintu exit. Pantesan begitu keluar yang kelihatan halaman depan bioskop. Untuk mereka yang mengetahui tingkah saya, PUAS PUAS PUAS?

Jungle Kids

0



21 Maret 2012.
Tepat pukul 06.30 saya mulai terbangun dari mimpi. Lebih tepatnya terbangun karena kondisi tubuh sedang tidak fit. Iya, saya sedang mengalami flu setelah sehari sebelumnya terkena hujan saat sedang liburan bersama pacar. Saya ingat hari itu adalah Rabu, hari di mana deadline tugas proposal kelompok Metopen harus segera dikumpulkan maksimal pukul 00.00. Dan celakanya, hanya saya satu-satunya orang dalam satu kelompok yang paham tentang bahan proposal bertemakan Good Corporate Governance. Karena jadwal hari ini sangat padat, akhirnya sesaat setelah bangun tidur saya putuskan untuk segera mengerjakan tugas proposal.
08.45. Alhamdulillah proposal sudah hampir mencapai taraf selesai. Dan tepat saat itu pula, ada SMS masuk memberitahu saya untuk segera meluncur ke Jogja Expo Center guna memasang stand pameran Jungle Kids. Hei, haruskah mendadak seperti ini? Bukankah jadwal sift saya hari ini sore? Oke, oke. Beri saya waktu hingga pukul 09.30 untuk mencapai sana.
09.25. Parkiran JEC.
Tukang parkir itu memberi karcis dengan umpatan “Slow down, Mbak. Jangan tancap gas terus. Keburu-buru amat sik!” | “Saya ini PANITIA, Pak!” | “PANITIA kok datangnya siang!” |
(Anjis. Ini tukang parkir rese banget. Gak tahu orang lagi keburu-buru nyari stand).
Nyampe pintu masuk pun masih dihadang orang berseragam kaos putih gambar monyet pula. Mereka kaya orang kepo yang kepengen tahu segala sesuatu tentang diri saya.
“Maaf BU, Anda punya kepentingan apa?”
(Helo… Jelas saya punya kepentingan) *ngomong dalam hati* *mendadak pengen pingsan*
“Ummm, Mas-mas, saya cuma disyaratkan teman untuk membawa pas foto 4x6 ini. Selebihnya saya tidak tahu”
“Oke, kalau begitu Kami persilakan IBU ke stand informasi untuk mendapatkan ID Card”
“Oh. Kirain Cuma foto 4x6 ini doang yang jadi syarat masuk ke ruang pameran”
*giliran PANITIA-nya yang pingsan*
Sesampainya di stand informasi.
“Maaf, Mas. Ini foto saya. Saya mau cari stand Toko Diapers”
“Sebentar ya, BU.” *kamfret, ‘Bu’ lagi?* “Tapi stand Toko Diapers sudah ada yang mem-paraf-kan tanda pengambilan ID Card”.
“Oh, tapi saya belum dapat ID Card-nya tuh, Mas”
“Ya tapi satu stand pameran berhak mendapatkan ID Card maksimal empat buah”
“YATAPI SAYA BELUM DIKASIH ID CARD-NYA, MAS!!!!” *ngotot*
*panitianya mikir-mikir*
“Ya sudah, ini ID Card-nya saya kasih satu lagi buat….Mbaknya.” *panitianya ngalah* *hore*
Setelah berhasil meyakinkan panitia, akhirnya saya baru ngeh kalau ternyata apa yang dikatakan tukang parkir tadi benar adanya. Saya bukan PANITIA seperti yang tadi saya bilang, melainkan TENANTS.

Sesampainya di dalam ruangan pameran. Baru kali ini saya merasakan pusing luar biasa. Bukan karena saya sedang mengidap flu, tapi karena tidak memakai lensa kontak dan tidak pula membawa kacamata. Dengan kapasitas ruangan sebesar ini, bagaimana bisa saya menemukan stand pameran yang saya cari? Orang-orang di dalam ruangan ini mendadak seperti pelit memberitahu letak stand pameran yang saya cari. Saya berasa seperti orang setengah waras setengah modar mencari posisi stand pameran dari ujung barat ke ujung selatan, ke timur, ke utara, ke tengah-tengah, ke barat lagi. Hingga akhirnya saya menemukan dua orang yang saya kenal sedang berjalan dan masing-masing menggendong bayinya tiba-tiba mengatakan letak stand pameran kami yang berada di ujung timur. Ah, lega.
Mulai pukul 10.00 hingga pukul 12.30 saya ikut membantu memasang stand pameran, selebihnya saya mohon diri untuk pulang karena pukul 15.00-21.00 nanti giliran saya dapat jatah sift sore. Alasan ini pula yang  sebenarnya membawa saya menuju warung soto karena memang sumpah demi apapun sejak dari kemarin sore perut ini belum mendapat asupan gizi.

22 Maret 2012.
Pukul 14.30 saya sudah harus sampai di depan Gedung Campus Service Center untuk bertemu kawan saya, Safwan, guna melunasi uang pembayaran jaket UIN. Di saat yang sama itu pula saya sudah berjanji untuk menyerahkan jurnal untuk nanti digunakan Fahmi saat kuliah metopen. Iya, sore ini saya bolos kuliah metopen lagi karena memang jadwal jaga stand pameran sift sore.
22.00. Sepulangnya dari pameran, saya bergegas menemui J untuk makan malam bersama-sama di warung lesehan Jalan Dagen, Malioboro. Selama makan itu pula saya merasa kecewa padanya. Apa pentingnya dia membicarakan kehebatan temannya yang beruntung mendapat istri seorang dosen, mualaf, dan belum lama ini membeli sebuah mobil?
J, Kau tahu frekuensi kita bertemu sangat jarang sekali? Ya, kita hanya mampu bertemu pada hari Sabtu pagi, dan kau yang menemuiku langsung di rumahku. Aku mohon, gunakan kesempatan bertemu malam ini hanya untuk kita berdua, membicarakan masalah kita dan masa depan kita.
23.00. Hujan turun membasahi kota. Aku pulang tanpa berpamitan. Nyesek.
23.40. 1 pesan masuk. “Nice dream beb…”
23.42. 1 pesan terkirim. “Ya, thanks”.

23 Maret 2012.
Saya dapat jatah sift pagi sampai pameran selesai tanggal 25 Maret 2012, dan sudah saya bulatkan tekad sore nanti untuk bisa jalan-jalan bersama keluarga saya di pameran Jungle Kids ini.
16.00. Adik-adik saya bisa masuk pameran tanpa harus membayar tiket sebesar @ Rp. 15.000 karena saya sudah menyiapkan ID Card dan gelang sebagai syarat masuk pameran. Dan inilah foto-foto selama berada di pameran:


Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan: SAYA KETEMU PERSONEL BAND SHEILA ON 7, ADAM BESERTA ANAK-ANAK, ISTRI, DAN IBUNYA DUDUK-DUDUK DI DEPAN ARENA TRAMPOLIN. *INIH GIMANA CARA MATIIN CAPSLOCKNYA TOLOOONNGGG TOLOONGG*

24 Maret 2012.
Hari yang membosankan. No message received at this whole day.

25 Maret 2012.
Hari terakhir pameran. Saya gunakan waktu ini untuk mengambil beberapa gambar saat pameran. Jujur ya, saya takut melihat badut, atau sejenisnya. Tapi karena hari itu memang ingin menjadi anak-anak lagi (saya berumur 7 tahun sepanjang lima hari pameran itu), saya memberanikan diri berfoto dengan badut polisi.

Lihat ekspresi tegang yang tidak bisa ditutupi oleh apapun. Sebetulnya masih ingin berfoto bersama dengan badut lainnya. Tapi apa dikata, ketakutannya sudah tidak bisa lagi diatasi. Saya memilih untuk menjauh, daripada pingsan, kan ga lucu.
Udah lah segitu aja. Good night, beautiful people. See you in the next post!

Diberdayakan oleh Blogger.