Saat aku tak lagi memanggilmu "Tuan" ke depan.
Posted on Rabu, 17 Agustus 2011
|
No Comments
Saya tidak pernah terpikir untuk bertanya,
"Pernah kamu merasa lelah?"
Lelah akan saya dan seluruh hal kekanakan ini?
Lelah karena terlalu lama menunggu saya mengerti kamu?
Lelah karena harus menemui hal-hal aneh yang saya lakukan saat sms dan hampir sejenis di setiap malamnya?
Lelah dengan perempuan yang 6 tahun lebih muda dari kamu yang suka meledak-ledak dan seenaknya meninggalkan kamu dengan dengkuran yang tak terdengar di saat sms tengah malam kita?
Pesan teks yang saya kirimkan semalam, secara tidak langsung
adalah penyesalan terbesar saya selama ini.
Saya mau kamu ada, saya mau "kita" terus ada.
Dengan waktu yang kita tidak tahu sampai kapan,
saya mau, kamu, saya, terus berusaha.
Bukan untuk menaklukkan dunia dengan kebaikan yang ada. Kita bukan Batman dan Catwoman, kamu tahu itu.
Kita, sepasang manusia yang suka menyanyi-nyanyi seenaknya. Sayangnya suara kamu jauh lebih patut untuk diperdengarkan dibanding saya.
*sigh*
Saya, perempuan muda nan multi-talented, multi-tasking, multi-media, tapi tidak suka multi-lasi seperti Ryan Jombang, yang sayang sama kamu dan belum cukup gila untuk mau kehilangan kamu.
Kamu, yang saya harapkan setengah mati untuk terus ada di samping saya, menemani saya dengan sorot matamu yang selalu saya suka.
Kamu, yang sering ku sebut dengan nama panggilan sayang "TUAN", meski kau mengeluhkannya, hmm akhirnya aku tahu itu, karena kamu takut akan kesan tua pada "Tuan". Kamu, sama sepertiku, selalu ingin Forever Young.
Tapi, sedikit aku mengerti, perlahan kau menjauh, pergi meninggalkan bekas luka tak bertanda. Alasan mengapa kau melarangku dari jauh-jauh hari datang menemuimu, ya, akupun mengerti. Biarlah. Biarlah semampumu begitu.
Aku suka dengan kenakalan lelaki seperti yang kau punya. Tantangan. Tapi maaf, aku tak suka jika seterusnya kau sendiri hanya menjalankan perintah agama setengah-setengah. Kepura-puraanmu, aku tak mau.
Cukup sajalah sampai di sini. Terimakasih, Tuan, telah mengenalku. Menunggumu untuk tidak sibuk hanya membuat waktuku habis tak bersisa. Keinginan untuk menggapai cita-cita bersama, akhiri saja.
Well,
saya jadi belajar satu hal disini,
Never, EVER ignore what you hear.
Aku lelah berbicara sendirian padamu,
Goodnight, goodness. Joni.
"Pernah kamu merasa lelah?"
Lelah akan saya dan seluruh hal kekanakan ini?
Lelah karena terlalu lama menunggu saya mengerti kamu?
Lelah karena harus menemui hal-hal aneh yang saya lakukan saat sms dan hampir sejenis di setiap malamnya?
Lelah dengan perempuan yang 6 tahun lebih muda dari kamu yang suka meledak-ledak dan seenaknya meninggalkan kamu dengan dengkuran yang tak terdengar di saat sms tengah malam kita?
Pesan teks yang saya kirimkan semalam, secara tidak langsung
adalah penyesalan terbesar saya selama ini.
Saya mau kamu ada, saya mau "kita" terus ada.
Dengan waktu yang kita tidak tahu sampai kapan,
saya mau, kamu, saya, terus berusaha.
Bukan untuk menaklukkan dunia dengan kebaikan yang ada. Kita bukan Batman dan Catwoman, kamu tahu itu.
Kita, sepasang manusia yang suka menyanyi-nyanyi seenaknya. Sayangnya suara kamu jauh lebih patut untuk diperdengarkan dibanding saya.
*sigh*
Saya, perempuan muda nan multi-talented, multi-tasking, multi-media, tapi tidak suka multi-lasi seperti Ryan Jombang, yang sayang sama kamu dan belum cukup gila untuk mau kehilangan kamu.
Kamu, yang saya harapkan setengah mati untuk terus ada di samping saya, menemani saya dengan sorot matamu yang selalu saya suka.
Kamu, yang sering ku sebut dengan nama panggilan sayang "TUAN", meski kau mengeluhkannya, hmm akhirnya aku tahu itu, karena kamu takut akan kesan tua pada "Tuan". Kamu, sama sepertiku, selalu ingin Forever Young.
Tapi, sedikit aku mengerti, perlahan kau menjauh, pergi meninggalkan bekas luka tak bertanda. Alasan mengapa kau melarangku dari jauh-jauh hari datang menemuimu, ya, akupun mengerti. Biarlah. Biarlah semampumu begitu.
Aku suka dengan kenakalan lelaki seperti yang kau punya. Tantangan. Tapi maaf, aku tak suka jika seterusnya kau sendiri hanya menjalankan perintah agama setengah-setengah. Kepura-puraanmu, aku tak mau.
Cukup sajalah sampai di sini. Terimakasih, Tuan, telah mengenalku. Menunggumu untuk tidak sibuk hanya membuat waktuku habis tak bersisa. Keinginan untuk menggapai cita-cita bersama, akhiri saja.
Well,
saya jadi belajar satu hal disini,
Never, EVER ignore what you hear.
Aku lelah berbicara sendirian padamu,
Goodnight, goodness. Joni.
Posting Komentar