Dear J...
Posted on Sabtu, 15 Oktober 2011
|
3 Comments
Tanpa pernah ada yang memberi aba-aba, aku menemukanmu. Seperti engkau menemukanku. Dalam ranah yang kita sebut nasib, lalu kita protes, menjadikannya sebuah takdir. Mungkin inginku demikian, mungkin pula denganmu. Bukankah begitu?
J, jika kita memadu raga dan juga jiwa, inilah sesuatu yang telah lama ingin ku curi darimu. Memperdayakan jiwa, saling mengenal, lalu bersabda: Kita sepakat menyebut itu cinta.
Kemudian bersemayam dalam keabadian dalam belantara yang dinamai kehidupan yang bersembunyi hingga kau hadir, yang menemani saat udara usai mengalir.
Aku dan dirimu.
Jiwa yang sulit terpecah. Tidak sederhana.
Sisanya fana....
to be with you,
R
J, jika kita memadu raga dan juga jiwa, inilah sesuatu yang telah lama ingin ku curi darimu. Memperdayakan jiwa, saling mengenal, lalu bersabda: Kita sepakat menyebut itu cinta.
Kemudian bersemayam dalam keabadian dalam belantara yang dinamai kehidupan yang bersembunyi hingga kau hadir, yang menemani saat udara usai mengalir.
Aku dan dirimu.
Jiwa yang sulit terpecah. Tidak sederhana.
Sisanya fana....
to be with you,
R

Comments:3
hmmm...
^_^
epiye kok mung hmmmm, pluk?
yupz..btul2,takdir dah mgalir pada kita,ikut berputar sm waktu,tetap pgangan.. jangan sampe tenggelam dlm air dan waktu...he..he..:)
Posting Komentar