> Dua Cangkir Cappuccino

Dua Cangkir Cappuccino

Posted on Selasa, 08 November 2011 | No Comments



“…ya nabi salam ‘alayka, ya rasul salam ‘alayka…”
Hpku berdering keras mengalunkan lagu Maher Zein, Salam ‘Alayka.  Aku hafal nada panggilan ini dan akan berakhir ke mana.
“Pak, Ririn-nya ada?” Tanyamu pada ayahku.
“Riiiiiiiinnnnn….” Berteriak ayah memanggilku.
Tanpa ku sadari, berdirilah kau di depan kamarku. Dan…..

“Maaf, aku terlambat”
“Bangun kesiangan lagi?”
“Maafkan aku”

Aku memaklumi mengapa kamu sering terlambat datang menemuiku di rumah. Sudah ku maafkan hal itu dari dulu, Sayang. Kini saatnya kau duduk. Seperti biasa, duduk di kursi panjang dan menghadap langsung pada kamarku. Tunggulah waktu sebentar. Akan ku buatkan cappuccino hangat untukmu, dan untukku.

“Minumlah segera. Konon kopi buatanku ini kopi terlangka di dunia. Kau tahu alasannya ?’’
Seketika itu kau menjawab :
‘’Dibuat dari rasa cinta, kasih sayang, dan ketulusan hati pembuatnya….’’
Hening.

‘’Aku belum pernah menemukan dan merasakan kopi seenak ini, Sayang.’’ Pujimu demikian.
Ah, tapi aku yakin. Itu hanyalah alasan untuk mempermanis bibirmu yang pahit karena terlalu banyak menghisap rokok. Ya, rokok. Sudah berapa kali aku mengatakan hal ini padamu, Sayang. Aku tak mau terus menerus melambaikan tangan guna menghalau asap rokokmu!

Ku bilang,
“Berhenti merokok atau berhenti bernafas?”
‘’Tidak dua-duanya.’’ Jawabmu demikian.
Dheg !

Tanpa perintah, kedua tangan ini memelukmu erat. Erat sekali. 
“Kamu merasakannya?”
“Iya, aku merasakannya. Hangat pelukan seperti ini tak akan pernah ku lupa.” Kamu tersenyum.
Aku menghela nafas.
‘’Sayang…. Aku rindu. Aku kangen kamu’’ Kataku pelan sambil menciumi pipimu.
‘’Akupun demikian. Lihatlah, Sayang, hatiku biru lebam karena dihajar rindu yang teramat dalam…’’ bisikmu lirih di telingaku.

‘’Ini baru semenit yang lalu aku bicarakan, dan sekarang rindu tentangmu mulai mengganda. Mereka bertingkah seperti amoeba. Rindu ini membelah diri, dan seakan-akan mulai menggerogoti beberapa rusukku lagi. Berkat rindu ini, mungkin kamu menjadi satu-satunya wanita yang mengambil lebih dari satu rusuk pria, sebagaimana yang dicontohkan Hawa terhadap Adam.’’
‘’Kadang aku membayangkan, kita dilahirkan sebagai sepasang kembar siam. Yang menempel di dada. Kita hanya memilikki satu hati. Dan mungkin atas kebesaran Tuhan, dokter-dokter itu berhasil memisahkan kita seperti segalanya biasa saja. Tapi aku yakin, tanpa mereka tahu, hati kita berdenyut dengan ritme yang sama, dan menetralisir racun dengan kekuatan yang tak beda.’’
Aku kehabisan kosa kata.
Diam sejenak,
Lalu
Giliran aku bercerita tentang mimpiku. Mimpi untuk tunangan, menikah, memiliki anak darimu, dan menamai mereka dengan nama belakangmu. Mengucapkan sumpah. Hingga cucu kita lahir, dan bangun tidur pada usia enam puluh tahun sambil berpegangan tangan. Setia, sampai maut memisahkan kita.

Air matamu meleleh. Sedikit. Tak ada air mata, yang ada hanya rasa sakit yang tertahan di dada. Itulah tangisanmu. Tangisan seorang pria.
Ah, moment itu…
Marliners

Diberdayakan oleh Blogger.