> The Colour of Me

The Colour of Me

Posted on Minggu, 24 Juli 2011 | No Comments

Dulu, sebelum aku menyukai diriku seperti sekarang ini, aku sempat sangat membenci diri dan berpura-pura menjadi orang lain. Tepatnya, menjadi sahabatku. 
Aku memiliki seorang sahabat, cantik dan disukai semua orang. Sifatnya yang supel dan menyenangkan membuat orang-orang tertarik padanya. Aku iri. Waktu itu, gambar diriku tertendang berulang-ulang. Tergerus seperti puyer. Hancur. 
Kami begitu dekat hingga orang-orang mulai membandingkan aku dengannya. Aku pun mulai membandingkan diriku sendiri dengan dia. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain itu sangat sangat menyiksa, kau tahu. Apalagi orang lain yang membandingkan. 
Pernah suatu kali seorang teman berkata aku tak lebih baik dari siapapun, dibarengi dengan perkataan seorang saudara yang bilang aku ini tak berguna. Aku rusak, serusak-rusaknya. Aku pun mulai berpikir aku ini cermin bagi sahabatku itu. Dia yang berada di luar cermin, cantik dan menyenangkan. Aku di dalam, kebalikannya. Akibatnya, aku menjadi semakin kecil karena membesar-besarkan orang lain.
Lalu aku mencoba cara lain. Aku mengikuti cara bicaranya, kupinjam bajunya, kupelajari gelagatnya. Aku (ingin) menjadi dia. Dan kucoba. Semakin kucoba menjadi orang lain, aku semakin terpuruk. Aku tak pernah bisa menyusul kepribadiannya yang bersinar. Saat itu aku tak tahu kalau setiap orang bersinar dengan kepribadian uniknya masing-masing. Saat itu aku tak tahu kalau menjadi diri sendiri itu satu-satunya yang bisa dilakukan untuk bersinar.
Setiap orang perlu penerimaan, tapi bahkan aku tidak menerima diriku sendiri. Maka aku tak tahu menerima penerimaan orang lain. 
Saat itu aku tak punya gambaran akan diri yang cantik, disayang, disukai, dan berharga. Aku hanya lihat perbandingan kontras antar aku dan sahabatku. Padahal tidak sama sekali aku terlihat begitu buruk. Orang memuji kelebihan-kelebihanku, dan aku menyadari apa yang baik dalam diriku. Meski begitu, gambar diri yang rusak itu telah membuat cermin di tanganku retak Yang kulihat cuma celah, salah.
Pembandingan diri itu berlangsung bertahun-tahun tanpa perbaikan. Cermin di tanganku semakin rusak, serusak hati di dalam. Aku hidup di dalam diriku sendiri, sampai sahabatku mulai menceritakan bagaimana ia mengagumiku. Makanya kami bersahabat. 
Lalu aku memutuskan untuk membuang rasa iri dan mulai mendongkrak kelebihanku ketimbang menendang gambar diriku masuk jurang. Aku pun menulis apa yang dapat kulakukan, kelebihan-kelebihanku, dan menyimpan pujian orang lain untuk menempel kembali cermin rusakku. Tapi yang kulakukan tak cukup. Aku gak merasa cukup dicintai dengan menulis kelebihan-kelebihanku. Juga gak merasa cukup baik dengan menyimpan pujian. Ternyata bukan itu yang kuperlukan. Aku pun berusaha menerima diriku sendiri dengan mulai menyukai apa yang kulihat di cermin.
Mulai menjadi diri sendiri, dimulai dari dalam. Bukan dari luar.
Semakin lama aku bertumbuh dengan sahabatku, aku belajar bahwa penunjukkan rasa sayang yang tinggi adalah menerima seseorang beserta celah-celahnya. Aku belajar menerima diri sendiri karena aku diajar untuk diterima. Dah, oh, ternyata setiap orang melalui fase yang sama. Memiliki gambaran diri yang rusak dan berusaha diterima orang lain. 
Waktu kita tahu kita diterima meski kita penuh celah, kita jadi gak bertopeng. Aku pernah memakai topeng dan menjadi sangat tersiksa. Karena aku menunjukkan yang palsu, penerimaan yang kuterima pun palsu. Padahal, warna apapun yang kupunya itu cantik. Karena setiap orang diciptakan dengan warnanya masing-masing. Dalam penerimaan terhadap diri sendiri, jangan sampai kamu buta melihat warnamu sendiri.
Katakan, apa warnamu?

Diberdayakan oleh Blogger.