Aku dan Desember
Posted on Jumat, 09 Desember 2011
|
No Comments
Aku kembali… Dengan secangkir kabar hangat, sehangat cappuccino yang sering aku teguk dipagi hari bersama-sama lelaki yang aku cintai, J.
Entahlah, Entah bagaimana aku sebegitu ‘mengidolakan’ dia. A person who gave me my most favourite memory... Kepadanya aku berharap. For having him in my life.
Dia lelaki hebat, dan aku mengakuinya. Dan aku ingin dinikahinya. Tidak hanya sekedar berimajinasi tentang suatu hal yang sering melintasi pikiranku tentangnya, berkhayal tentang diriku yang tak bisa berkata-kata karena dia mengunciku dengan bibirnya. Kemudian berpeluh mengucuri seluruh tubuh. Iya, aku ingin hidup dengannya. Dan membiasakan untuk membinasakan ego kami masing-masing. Ego dia yang too much narsisable, dan ego saya yang need some caress and everything. Selamanya.
I hope that this is the best thing we ever considered together. I hope that, you, me, us, will be having a better chapter for our own good.
Hhhhh... hari ini dan yang lalu-lalu adalah sesuatu, seperti kebanyakan lelaki dewasa pada umumnya, dan perempuan yang sedang menuju tahap dewasa, dan aku tahu itu akan terjadi. We're getting crush with many reasons. Yes, REASONS. I realized that it’s your ego, your big-effing-ego who took the decision. Dia bilang tanggal 17 Desember. Ada apa dengan 17 Desember? Bukankah kami masih saling mencintai?
Jujur, aku masih menyimpan ketakutan pada bulan Desember. 7 Desember 2008, andai saja kau ada pada waktu itu. Kau akan menyaksikan sendiri di sana, di tempat aku dan dia merayakan takbir Idul Adha berdua, untuk terakhir kalinya. Terakhir kali mencium, mengucap,dan mengikhlaskan dia mencintai wanita lain. Iya, aku ‘dipaksa’ putus cinta pada orang yang sangat aku cintai pada waktu itu.
7 Desember? 17 Desember? Mau apa?
The only thing you know is, the decision has been taken.
Someone I want to give a second chance to. You.
I write this post with teary eyes, snorting-little nose, a hopeless heart…
The person that you wish you could be, R.
Posting Komentar