> The Journey of 2011

The Journey of 2011

Posted on Senin, 02 Januari 2012 | 3 Comments


Tahun 2011 menjadi tahun di mana aku menemukan banyak sekali ‘sesuatu’. Dimulai dari awal tahun yang mana Alhamdulillah aku kembali mendapatkan beasiswa Kementrian Agama RI dari kampus tercinta. Dan dari uang beasiswa itulah aku bisa merasakan lagi indahnya dunia! Iya, aku membeli dan memakai softlense berwarna oh-so-abu-abu-ngejreng menyilaukan seisi Pedukuhan Keuangan Islam Kelurahan Syariah & Hukum. *dibekep warga KUI rame-rame*

Kemudian pada awal semester 6, aku mulai lagi menjalani profesi lamaku, berjualan buku. Menjajakan buku kepada teman-teman sekelas dan mendapati sedikit banyak—tapi Alhamdulillah—lumayan bisa menunjukkan kepada orang tua bahwa aku bisa mencari rejeki sendiri. Teruntuk ibuku, beribu terima kasih ananda ucapkan kepadamu karena atas modal darimu pula lah aku bisa berjualan buku. *peluk  ibu dari berbagai penjuru* *ciyum tangannya* *minta uang lagi* *plakkkkkk*
Oh hey, awal-awal tahun 2011 pula aku bertemu teman-teman baru berwajah lama, Indah dan Fahmi. Mereka ini sudah lama ku kenal namun sebatas say hai. Tapi seiring berjalannya waktu entah kenapa Tuhan memberikan hadiah berupa sahabat-sahabat terbaik sepanjang tahun ini. Menjadikan hidupku lebih bernyawa, berwarna, dan berharga. Kepada merekalah aku bercerita, bercanda, tertawa, menangis, bersedih, tertawa lagi, belajar, dan memahami tentang kehidupan.
Kami bertiga saling mengisi hari-hari. Berusaha berkata jujur. Jika baik dikatakan baik. Jika jelek dikatakan jelek. Tanpa menambah atau mengurangi. Bahkan jujur dalam situasi darurat sekalipun, kentut. Indah yang paling sering kentut di hadapan kami ketika kami bertiga berkumpul dan bercerita. Not really bad, because her kentut not so smelly. Tidak seperti aroma kentutku yang kadang membuat mereka pingsan kejang-kejang. Ah, girls, come on! Tidak semua kentut itu berbahaya. Hanya saja kalian belum mengerti bahwa dari kentut seseorang itu bisa menimbulkan demo besar-besaran. Iya, kalian yang berdemo di depanku menutut aroma kentutku segera dibersihkan. J

However, kalian baikkkk sekali…. Mampu menerimaku apa adanya. Dari kelebihan maupun kekuranganku. Mendengar cerita-ceritaku tentang Mr. Hello goodbye, seorang teman lama yang aku suka, tapi sayang orangnya hanya menganggapku teman. Padahal aku sendiri udah nyengir selebar lapangan pekerjaan, kalo misal aku jadian sama dia, berarti kedepannya bakal bla bla bla aihhhhh senengnyaaaaa. Stop! *langsung diam* *terdengar suara jangkrik* *krik krik kriiiiikkkk*
Fine, yang sudah biarlah sudah. Termasuk yang sudah-sudah, salah seorang teman sekelas yang pada akhirnya akupun tak tahu bagaimana ceritanya 3 tahun kami saling membisu. Kalo ada  cerita Love is blind. Mungkin ceritaku sama dia bisa disebut Love is dumb or love is quite. Cinta itu bisu. Halo, halo, haloooooo….. Kepada para produser dan sutradara sinetron, feeling saya bilang kalo judul “Cinta itu bisu” bakal punya rating tinggi nih. FYI aja sih…
Oke fine, life must go on. Sudah masuk pertengahan tahun. Sadar masih punya kekurangan, harusnya lebih giat menambah kelebihan. Saatnya menata diri dalam kehidupan. Sudah memasuki dunia PKL. Aku beserta kawan-kawanku, Hosnan dan Anya mendapat tempat PKL di Bank Syariah Mandiri KCP Katamso Yogyakarta. What amazing people they are! Aku sendiri tidak percaya, betapa welcome & friendly-nya rekan-rekan BSM Katamso ini. Baru hari pertama kami PKL, kami sudah diperlakukan seperti teman sendiri. Iya, 25 Juli 2011 hari pertama kami PKL bertepatan hari di mana Mas Rian ulang tahun. Aku masih ingat saat itu, ketika doa pagi bersama, dengan tergesa-gesa beliau masuk ruangan dan minta maaf atas keterlambatannya dengan alasan: “Saya terlambat karena ada klien yang menelpon saat saya akan berangkat kerja”. FYI aja nih ya, Mas Rian ini tiap hari kerja Magelang-Yogya PP. Padahal aslinya sendiri berasal dari kampung yang-gak-nyampe-1 KM-ke arah timur dari BSM beliau bekerja. Beliau sendiri rela tiap hari PP karena memang dapat istri orang Magelang dan bekerja di salah satu bank juga. Huwow, jadi terharu. Oh iya, terakhir dapat info kalau ternyata istrinya Mas Rian sudah melahirkan anak ke dua. Selamat ya…. J
Lanjut, sidang hadirin hening sejenak tapi kemudian ramai saat Mas Rian bilang kepada rekan-rekan BSM semua—termasuk kami peserta PKL—diminta untuk tidak membeli makan siang di luar karena hari ini beliau akan mentraktir kami semua di hari ulang tahunnya. Kami bertiga ditambah teman PKL dari salah satu teman dari lain kampus, Vida, masih belum percaya dengan statement dari Mas Rian tadi. Jadilah kami makan siang di luar. Namun setibanya di bank, Pak Heri, Operation Officer kami bilang, “Kenapa masih makan siang di luar padahal sudah ada lunch box berisi paha & dada ayam untuk kalian?”
*bengong*
*liat-liatan satu sama lain*
       Cerita ini kami bawa hingga ke mushola dan terdengar oleh Security bank, Pak Susilo. Beliau memberitahu kami bahwa apapun yang sudah dibicarakan oleh rekan-rekan BSM pada saat doa pagi, jika bilang A ya  A. Tak mungkin berubah menjadi B. Alhasil, lunch box kami bawa pulang.
29 Juli 2011. Masih di tempat PKL yang sama. Adalah hari terakhir kami bisa makan & minum. Karena pada Senin depan, 01 Agustus 2011 sudah memasuki bulan Ramadan. Sore hari setelah semua pekerjaan selesai, lagi-lagi kami mendapat traktiran es krim dari salah satu rekan kami, Mbak Ana. Moment ini aku abadikan dalam foto bersama rekan-rekan BSM yang ramah.



Thanks a lot buat semua rekan-rekan BSM atas ilmunya, keterbukaannya, kerjasamanya. It’s the greatest PKL that I’ve ever had…
Allah Maha Baik. Di pertengahan tahun 2011 Dia memberiku teman baru di suatu tempat di sebelah utara Pasar Lempuyangan. Pada awalnya kami saling diam tak menyapa. Tapi pada akhirnya suasana mencair entah karena suatu apa. Lalu kami bertukar nomor handphone—yang pada saat itu terpikir oleh kami untuk kelak dapat digunakan untuk urusan bisnis—namun pada akhirnya berujung pada sebutan nama di list kontak handphone kami menjadi sebutan “.Massay.” di handphone-ku, dan “Cemplux” di handphone-nya. 2 bulanan lebih kami berteman. Di Pantai Goa Cemara, 18 September 2011, setelah lebih dari 3 jam kami bercerita ala kadarnya, pada akhirnya kami sepakat untuk jujur menyatakan perasaan kami masing-masing. Perasaan hati yang lelah pacaran-putus-mencari pasangan-memulai lagi dari nol, keinginan untuk memiliki pasangan yang “tepat”, dan impian-impian lainnya.
Kami pulang dari pantai hampir mendekati senja. Entah mengapa saat perjalanan pulang air mata membasahi pipi. *lebay banget sumpah*. Aku sudah menjadi ular berbisa saat itu. Menyatakan cinta pada seseorang hari ini, dan dinyatakan cinta oleh seseorang lainnya pada esok hari. Iya, 2 hari berturut-turut mendapatkan cinta dari kedua orang pria di pantai yang berbeda. Tapi hidup adalah pilihan, Kawan. Bisakah kalian hidup dengan Seseorang yang sama sekali tidak perhatian? Apa rasanya ketika segalanya kamu yang lebih dominan memulai “Hai, apakabar? Sedang apa lagi di mana? Sukses ya kegiatannya. Jangan lupa makan. Iya, malming kelabu tanpamu…”. Bahkan nyaris gak pernah smsan ataupun telpon dengan alasan sibuk PPL. Bete, kan? Untuk seseorang yang terakhir ini, BYE.

Oktober…
06 Oktober 2011. Aku bersyukur masih bisa diberi hidup selama genap 22 tahun ini. Horeeeeee aku ulang tahun! Teriring doa terucap dari teman-teman, namun tidak dari seseorang. Ya, dia tidak ingat hari ini ulang tahunnya siapa dan bagaimana sedihnya ketika ulang tahunku ini tidak ada ucapan sama sekali darinya dan tidak pula dirayakan bersamanya.
But it’s oke, aku sudah berjanji kepada sahabat-sahabat baikku untuk mentraktir mereka makan Pizza. Dan inilah foto hasil jepretan sendiri saat ulang tahun kemarin.

Di bulan Oktober pula aku mendapatkan dua pekerjaan, yaitu kembali diberi amanah untuk bekerja lagi di kios buku pasca lebaran untuk hampir satu bulan, dan ikut jaga stand pameran Toko Diapers. Banyak sekali ku dapati teman-teman baru bermunculan di stand pameran seperti Ribid, dan di kios tempatku berjualan, seperti Si Kun, sebutan untuk teman sesama karyawan. Dik Sobat, yang memiliki nama panjang yang oh-so-beautiful-meaning: SAHABAT NABI DALAM KEHIDUPAN ABADI. Percaya deh, kalau kalian mendapati anak kecil di bawah ini, hanya satu hal yang akan kalian lakukan, mencubit pipinya.
                                 Ini tempat aku jaga stand pameran produk bayi.

                   Ini gambar kios buku tempat aku bekerja. Diambil pas sepi pembeli.
                                                           Fotonya dik Sobat
                                                     Mirip Ian Kasela, gak?
                                  Atau yang paling bikin ketawa guling-guling.....

Dari perbincangan kepada para pembeli, ada beberapa yang tak segan-segan berbagi akun twitternya, memfollow dan memfolbek: @eriktanaya, @yosua_prabawa, @Princes_Ocha, @TienTha_Oshin, kedua akun terakhir ini aku dapatkan setelah sebelumnya aku—sang penjual buku, dan mereka—pembeli buku saling bercerita kesukaan kami terhadap drama Korea. Eaaaaaa. *Speechless*
Oktober, bulan di mana aku mendapat berkah lagi. Alhamdulillah kembali aku dapatkan beasiswa dari Kementrian Agama RI melalui kampus. Berdoa & berserahlah diri kepadaNya, Kawan. Insyaallah do’amu terkabulkan. Allah Maha Pengasih dan Penyayang.
Desember. Tiga kali sudah percintaanku dengannya terancam tamat. Biarpun kisah kasih kami terhitung masih seumur jagung, cepat atau lamanya suatu hubungan, bagi kami sama saja. Toh aku pernah 3 tahun menjalani hubungan dengan Mantan namun akhirnya tamat. Termasuk lelah mengejar laki-laki selama 3 tahun yang sudah aku ceritakan sebelumnya. Atau lelah berkenalan dengan seseorang lewat no hp nyasar, dunia maya, kemudian kopdar, dirasa tidak cocok, kemudian kabur. Begitu juga dengan pacarku sekarang, dia pun sudah lelah menjalani pendekatan-pacaran-putus dengan beberapa wanita sebelumnya.
Eh udah nyampe mana tadi? Oke, tiga kali terancam tamat. Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya di postingan Aku dan Desember. Itu adalah ancaman nomor dua untuk tamat. Namun akhirnya kami baikan. Apa alasannya, tunggu ceritanya suatu saat ya, Kawan. J
Dan di penghujung tahun 2011 kemarin Alhamdulillah aku dapat rejeki banyak. Mungkin ini tidak terlepas dari doa-doa yang tiap hari aku panjatkan. Termasuk orang-orang yang mendoakan aku juga. 27 Desember aku dapat telepon dari nomor Jakarta. Sial, saat telpon itu berdering aku sedang memakai handphone bangkai. Maksudnya, hpku hanya bisa untuk smsan saja. Tidak untuk menelpon atau ditelpon. Aku membatin dalam hati, jangan-jangan aku menang undian apa sebesar berapa. Siapa tahu hadiahnya bisa untuk—hmm, nikah—atau setidaknya untuk bla bla bla. Buru-buru aku ganti hp yang bisa untuk ditelpon. Dan ya, kembali ada penelpon dari Jakarta tadi, Pemirsa!

“Halo, selamat siang. Maaf ini siapa?”
“Bisa bicara dengan Saudara Ririn Marlina?”
“Iya saya sendiri. Maaf ada perlu apa ya?”
“Ibu, selamat Anda mendapatkan hadiah dari kuis yang sudah Anda ikuti di Fan Page FB Aora TV Satelit tempo hari. Bisa dijelaskan alamat tinggalnya?”
“Oh iya, alamatnya ada di bla bla bla….”
“Terima kasih ibu, paket hadiah akan kami kirimkan segera. Terima kasih sudah mengikuti program kuis berhadiah dari Kami… Selamat siang”
“Terima kasih kembali…”

Klik.

Iyeaaaaaa, aku dan Indah lompat-lompat kayang di kamar kostan. Kami hanya bisa menebak-nebak hadiah apa yang bakal kami terima. Uang jutaan? TV? Paket Umroh? Ya, kami hanya bisa menebak.
Setelah kejadian itu berlangsung, Indah mengajakku jalan-jalan ke Malioboro untuk mencari cincin yang akan dia beli. Cuaca saat itu panas sekali sehingga kami memutuskan untuk membeli es teh Tong Tji. Entah kenapa kami diusir petugas toko baju Di**sty karena alasan kami keliling toko baju dengan membawa cup teh.

“Maaf, Mbak. Bisa dihabiskan dulu es teh-nya di luar?” *sambil memperlihatkan  arah luar dengan telapak tangan membalik ke atas*
*liat-liatan sama Indah*
“Oh… ya….” Jawab Kami serentak
Sesampainya di luar, Indah marah-marah sama aku. (Kok jadi aku sik yang kena marah?)
“Maaf ya, Mas. Bukan es teh yang bakal saya habiskan. Tapi Mas-nya langsung yang akan saya habisi di luar!!!” Gumam Indah.
Bhahahak. *ketawa setan*

Pada saat bersamaan pulalah, hari itu hingga mendekati hari-hari terakhir bulan Desember, lagi-lagi aku terancam bubar dengan pacar untuk ketiga kalinya. Mungkin pakaian batik hijau dengan jilbab hijau dan rok merah maroon dinilai tidak pantas aku kenakan. Bahkan membuat dia malu di hadapan teman-temannya karena penampilanku terlihat seperti “Simbok-simbok”. Eh hey, c’mon guys…..gak ada salahnya khan aku mengenakan pakaian seperti itu? Toh penampilanku rapi, sopan, dan ada keterkaitan warna satu sama lain antara jilbab, baju, dan rok. Jangan salahkan penampilanku sembarangan, please. Salahkan penampilanku jika pakaianku compang-camping, dan tidak sopan.Iya, pertengkaranku dengannya terjadi hanya karena urusan penampilan.
Sudah lelah bertengkar selama 4 hari, kami memutuskan untuk baikan. Karena kami sadar, masih banyak hal yang harus diselesaikan selain penampilan. Dan kalaupun masih bertengkar dengan masalah yang sama, dengan siapa lagi kami akan merayakan malam pergantian tahun baru nanti?
30 Desember 2011. Aku mendapat rejeki dari Pakdeku yang tinggal di Pesisir Karawang. Beliau mengirimkan sejumlah uang untukku sebagai bentuk syukur beliau karena mendapat tunjangan gaji berlebihnya sebagai Kepala Sekolah Dasar. Terima kasih aku ucapkan kepadamu, Pakde. Terucap do’a dari ananda untukmu. Selalu.
31 Desember 2011. Setelah kiriman paket undian berhadiah berupa voucher belanja Carrefour sejumlah tertentu dari Aora TV, akhirnya aku belanjakan segera dengan pacarku. 
Setelah Isya berkumandang, Kami berdua jalan-jalan menuju Amplaz dan masuk ke Carrefour untuk membelanjakan voucher tersebut berupa barang. Inilah kali pertama kami berdua jalan-jalan ke Amplaz bersama-sama. Aku lebih sering jalan-jalan ke Amplaz bersama teman-teman. Sedangkan dia sendiri, ini adalah kali kedua jalan-jalan ke Amplaz setelah sebelumnya Ia pernah masuk ke sana saat Grand Opening dulu—seingatku awal-awal sekitar Maret-Mei 2006, yang mana waktu itu adalah bulan-bulan pertama aku berpacaran dengan mantanku. Saat itu aku masih kelas 2 SMK dan mantanku sendiri masih kuliah semester 6 di kampus yang sama denganku menuntut ilmu—dan tentunya saat itu pacarku masih menjadi mahasiswa teknik mesin di salah satu kampus sebelah barat kampusku.
Waktu menunjukkan pukul 21.00. Kami sudah selesai membeli barang. Saatnya kami cepat-cepat menuju Malioboro untuk menyaksikan pesta kembang api karena jalanan pasti akan macet. Benar saja, jalanan ditutup di mana-mana. Padahal motor akan kami titipkan di tempat Simbahnya pacarku yang terletak di kampung kecil belakang Malioboro. Atas izin dari Polisi yang dia kenal, akhirnya kami diperbolehkan masuk jalan satu arah, karena itu merupakan jalan satu-satunya masuk kampung tempat Simbahnya tinggal. Fine, setelah menitipkan motor dan barang belanjaan sebanyak tiga kantong keresek putih yang cukup berat, akhirnya kami berdua berjalan menelusuri sempitnya gang-gang kecil kampung Malioboro, dan melewati lautan manusia yang berjejal di pinggiran jalanan Malioboro sambil berpegangan tangan. Aku merasa pegangan tangan kami kali ini berbeda. Mungkin karena rasa rindu yang mengharu biru setelah berhari-hari bertengkar, ditambah frekuensi pertemuan kami yang sangat jarang, jadilah aku kembali seperti anak kecil yang dipegang tangannya oleh ayahku agar tak hilang dikeramaian. Di Malioboro pula lah, aku banyak bertemu dengan teman-temannya. Dan dengan tegas pula aku menjawab salah satu pertanyaan dari mereka, “Iya, Saya pacarnya…”.
Pukul 23.45. Kembang api sudah mulai menyala di langit sana. 15 menit lagi kami akan memasuki tahun baru. Tahun di mana aku menaruh banyak cita-cita. Pun dirinya. Sambil menikmati Mister Potato dan juga Yoghurt yang kami beli tadi di Carrefour, kami saling bercerita mengenai resolusi kami masing-masing di tahun 2012. Aku yang memiliki resolusi wisuda dan mendapatkan pekerjaan yang layak secepatnya di tahun 2012, juga resolusi-resolusi lainnya, berdoa semoga tercapai.

01-01-2012. Pukul 00.00.

“Selamat tahun baru, Sayang. Dari tadi sepertinya hanya aku saja yang bercerita tentang resolusi tahun 2012”
“Selamat tahun baru. Selamat tahun baru” katamu demikian.
“Apa? Segitu doang? Gak romantis. Coba ucapin sekali lagi. Biar aku kasih piring cantik untukmu karena genap mengucapkan tiga kali SELAMAT TAHUN BARU kepadaku.
“Selamat tahun baru”

*brb ambil piring di rak dapur* *kasihkan ke pacar*

“My resolution in 2012 is…. GET MARRIED WITH YOU…”


*jleb* *hening*
*setel backsound lagunya TRAIN, Marry Me*

Well, 2011 was too short for me.
2011… I’ve been waiting so long
Oh 2011… how can we be alone
I never knew it could be happened
I feel quite the same
I don’t want to hurt you anymore
I never knew it would work out
No one to blame
You know I love you, 2011…

Biarkanlah kenangan 2011 itu menghias hatimu. 2012, LET’S START SOMETHING NEW.

Ini ceritaku. Apa ceritamu?

Comments:3

fachrudin mengatakan...

wah....
mengharukan dan mengesankan...
apalagi foto anak kecil pake topeng kesatria kranjang sampah itu..
ngakak 7 turunan...
kwkwkwkwkwkwkwkwkw

Lady Marlinaz mengatakan...

bhahahahahakkkkancuuutttt :)

Anonim mengatakan...

oowhhh...so sweeettt....pelukkk cium klumut blepotan buatmu mak......

Diberdayakan oleh Blogger.