Test Blog. Please ignore.
Posted on Selasa, 12 Juli 2011
|
No Comments
Kau memetik nadiku seperti senar yang ada pada harpa, menari di pikiranku yang tadinya hampa, dan mewarnai wajahku dengan warna merah.
Banyak petuah tak lelah tumpah seperti muntah, namun aku hanya selalu basah meresap kisah.
Aku ingin lebih berarti dari sekotak cermin, itu agar engkau bisa melihat dirimu sendiri di kedalaman mataku yang berkaca-kaca.
Sebab hanya dusta yang terpancar dari senyum sumringah yang kau pancarkan saat tanpa kehadiranku.
Aku sesak terinjak-injak kaki jutaan detik yang lari berhamburan mencari kamu.
Dan....
Aku ingin memandangi gambarmu sampai aku benar-benar tiba di pangkal rasa kantukku.
lalu, kumaafkan ketampananmu.

Posting Komentar